Ibu Cerdas Solusi Generasi Emas Bebas Stunting

” ini sayur apa?” Tanyanya pada anak anak berseragam merah putih. Sayuran yang berwarna putih dan lonjong itu ditebak sebagai ‘terong’ oleh anak anal yang jadi participan sosial eksperience.

Yang lebih sedih lagi, Sawi hijau mereka tebak sebagai kangkung. Dan hampir semua sayuran selain wortel dan kentang tidak ada yang benar benar lolos diketahui oleh anak anak tersebut.

Fenomena itu aku ketahui saat menonton sebuah video yang melintas di wall facebookku. Entah siapa yang salah. Anak Anak tidak mengenal sayuran sekaligus tidak menyukai rasa sayuran tersebut.

Padahal ya sayuran menjadi salah satu sumber vitamin dan serat yang dibutuhkan oleh tubuh. Mungkin ada yang salah dalam pola asuh dan pola konsumsi keluarga sehari hari.

Makanya waktu Nutrisi Keluarga mengadakan webinar mengenai bagaimana memenuhi nutrisi anak dan peran serta ibu dalam mencegah stunting Dan mencetak generasi emas. Ingatanku tentang video diatas kembali muncul. Wah mungkin Kita sudah salah sejak awal nih, pikirku.

Nah kaitannya bagaimana? Insyaallah akan aku kupas di postinganku ini ya.

Ibu Cerdas Cetak Generasi Emas Bebas Stunting.

Bahasan ini dikupas tuntas oleh banyak pemateri. Yakni Dokter anak Dr. dr. Tubagus Rachmat Sentika, Sp.A, MARS, Dr. Tria Astika Endah permatasari, SKM, M.Kes PP Aisyiyah, Psikolog Anak & Remaja – Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., dan Presenter/ Parenting Influencer Ratu Anandita. Acara terasa semakin seru karena dipandu oleh Moderator cerdas Kang Maman Suherman.

Dokter Rahmat mengupas tuntas mengenai 1000 Hari Pertama Kehidupan yang merupakan cikal bakal suksesnya tumbuh kembang seorang Anak. Seperti yang Kita ketahui. Nutrisi sangat diperlukan untuk pembentukan organ maupun tumbuh kembang Anak sejak masih didalam kandungan selama 270 Hari hingga 730 hari setelah dilahirkan

Rentang waktu ini menjadi sangat penting karena pembentukan awal mula organ dalam termasuk otak Sebanyak 80 persen selama tentang waktu ini.

Karena itu ibu hamil wajib memperhatikan gizi dan nutrisi yang dikonsumsi selama kehamilan. Bayi juga sebaiknya minimal mendapatkan asi ekslusif Paling sedikit 6 bulan dan lebih baik jika diteruskan sampai hingga 2 tahun lamanya.

Kekurangan gizi dan nutrisi di rentang waktu 1000 HPK ini dapat memberikan akibat yang buruk bagi tumbuh kembang Anak. Anak bisa beresiko mengalami stunting atau perawakan pendek. Dampak jangka panjangnya juga menyebabkan IQ rendah serta bisa terkena penyakit degeneratif saat dewasa.

So daripada menyesal nantinya. Memang harus sangat diperhatikan sekali asupan gizi selama 1000 HPK.

Dokter Rahmat juga memberi catatan untuk tidak memberikan kental manis pada balita. Apalagi sampai dijadikan minuman. Karena kental manis tidak mengandung protein yang memang sangat dibutuhkan oleh balita. Malah kandungan gulanya sangat tinggi hingga 52persen. Yang artinya kalau diberikan ke Anak Anak dapat menyebabkan pra obesitas maupun permasalahan lain.

Catatan Untuk Para Ibu, Pengolahan Pangan Untuk Anak

Materi ke dua disampaikan oleh Dr.Tria Astika Endah Permatasari. Dan materi ini pun nggak kalah penting dari materi pertama.  Jadi setelah Kita tahu penyebab stunting, dan bagaimana Cara menghindarinya. Hal yang kedua yang harus dipersiapkan adalah SDMnya. Kalau disini Ibu adalah orang yang nantinya harus menerapkan pola makan sehat dan mengatur menu sehat untuk keluarga.

Menurut dokter Tria. Ada prinsip yang harus diketahui oleh para ibu maupun calon ibu terkait pengelolaan makanan. Salah satunya adalah prinsip 3SC. Prinsip tersebut adalah sebagai berikut :

1. Plastikan bahan segar berkualitas bebas cemaran.

Memang sebaiknya untuk balita, Hindari konsumsi makanan awetan. Lebih baik mereka diberi real food. Karena nutrisi masih tinggi dan dapat diatur kadar sodiumnya. Hindari penggunaan micin dan makanan olahan.

2. Bersihkan bahan dan peralatan pengolahan

Bahan segar dapat menjadi rusak bila salah dalam penyimpanan maupun Pengolahan. Pastikan mengikuti kaidah penyimpanan makanan agar aman dikonsumsi. Termasuk selalu membersihkan peralatan memasak sebelum dan setelah mengolah makanan.

3. Pisahkan bahan Pangan nabati dan hewani. 

Seperti yang Kita ketahui, Ada bakteri salmonella dibeberapa bahan makanan hewani. Karena itu penyimpanan bahan makanan ini sebaiknya terpisah dari bahan makanan yang lain. Dalam Hal ini penggunaan talenan yang berbeda juga sangat disarankan.

4. Pilih Teknik masak yang tepat tergantung bahan makanan

Untuk mengoptimalkan penyerapan nutrisi. Harus memperhatikan Cara dan teknik masak yang tepat untiuk bahan makanan. Karena tiap bahan Memiliki Cara pengelolaan yang berbeda. Apalagi untuk jenis sayuran.

5.Menyajikan dgn cara yang menarik, & kreatif

Untuk menarik minat anak anak, apalagi yang picky eater. Menambah effort until membuat tampilan makanan yang menarik menurut dokter Tria merupakan hal yang harus dilakukan. Dengan begitu makanan yang akan diberikan ke balita dapat menarik dan menerbitkan selera makan anak.

Masih banyak yang dapat dilakukan oleh para ibu maupun calon ibu dalam memastikan pemenuhan gizi dan nutrisi keluarga. Tips lainnya bisa di lihat di laman sosmed Nutrisi Keluarga loh. Bisa melalui Twitter maupun Instagram.

Di webinar kemarin juga ada sharring sesion dari Psikolog anak Mbak Vera serta Selebmom Ratu Anindita. Ada tips menarik dari Ratu Anindita, bahwa yang terpenting dalam menyiapkan nutrisi anak melalui makanan adalah kekompakan pasangan suami istri. ” Komunikasi itu sangat penting, terutama komunikasi yang baik antara suami maupun komponen keluarga lainnya (nenek, kakek, mertua)”

Menurutku benar sekali. Karena kadang kadang aturan dalam memberikan anak makan sering dirusak oleh keluarga terdekat. Contoh anak tidak boleh makan makanan oalahan.  Tapi malah dikasih snack kemasan oleh neneknya.

So benang merah dari webinar kemarin memang menitik beratkan peran Ibu sebagai pioneer dalam mengatur menu dan nutrisi sehat untuk keluarga.  Terutama dimulai dengan mengkonsumsi makanan Sehat sejak dari awal kehamilan.

Pola makan yang baik akan menjadi kebiasaan baik bagi anak dari kecil hingga dewasa. Termasuk terbiasa mengkonsumsi sayuran. Sehingga anak anak dapat menerima Dan mau mengkonsumsi aneka bahan makanan termasuk sayuran.

Nah bagaimana para Ibu serta  calon ibu lainnya? Siap mencetak generasi emas bebas stunting? Insyaallah siap ya. Semoga tulisanku kali ini bermanfaat ya. Sampai bertemu di postingan lainnya

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *