IRT Berdaya Di Dunia Digital

Pernah merasa nggak berguna? minder? depresi? saat tidak lagi jadi pekerja kantoran? resign dari kerjaan dan memilih jadi ibu rumah tangga.

IMG_20191203_134752

Pasti ada kan? yes sama!. Aku dulu sempat merasa begitu. Ibuku pun menyesali keputusanku untuk tidak lagi bekerja kantoran. Karena menurut beliau sayang banget ijazahnya.

Tapi keputusan aku berhenti bekerja jelas adalah permintaan dari Suami. Beliau bilang mencari nafkah itu bukan tanggung jawab istri. Selagi suami mampu, biarkan suami yang mencari nafkah. Beda masalahnya kalau suami sedang tidak bisa atau tidak mampu. Maka istri boleh turut membantu mencari nafkah.

Jelas aku sih menyambut happy permintaan suamiku. Karena selama ini aku sudah lelah mencari nafkah untuk mensupport keluargaku.

Sejak suami mengambil alih. Aku merasa hidup jadi lebih bahagia. Nah permasalahannya adalah seringkali ibu rumah tangga yang tidak bekerja di kantoran tidak dianggap berdaya. Padahal menurutku tidak demikian.

Keberdayaan itu sendiri tidak serta merta dapat diukur dari keterlibatan perempuan di pekerjaan kantoran. Untuk teman teman yang profesinya memang khusus seperti guru, dokter, bidan dll. Aku tentu saja mendukung mereka tetap bekerja.

Namun untuk pekerjaanku dulu sebenarnya bisa digantikan. Apalagi sekarang zaman digital. Aku yang tinggal di rumah pun sebenarnya dapat memanfaatkan teknologi digital untuk memberdayakan diri.

Teknologi memang bukan barang baru, karena setiap zaman memiliki teknologinya. Teknologi tumbuh mengiringi perkembangan zaman, bertransformasi dari masa ke masa, tidak hanya mempengaruhi dunia industri, namun juga besar dampaknya terhadap transformasi sosial dan budaya kita. Hal ini juga sejalan dengan perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi atau dunia digital.

Akselerasinya sangat cepat bisa dilihat dengan bermunculan produk teknologi yang memudahkan penyebaran informasi dan telekomunikasi. Produk tersebut cukup familiar di mata masyarakat, seperti komputer, televisi, radio, ponsel, internet dan lainnya. Akses tersebut mudah didapat dengan banyaknya perusahaan telekomunikasi yang berkembang di negara ini.

Akan tetapi kenyataannya, pemanfaatan TIK dan dunia digital ini masih erat kaitannya dengan maskulinitas. Pengakses TIK lebih didominasi pria, padahal jumlah penduduk di Indonesia mayoritas adalah wanita.  Banyak factor yang membuat dunia digital tidak dapat dinikmati oleh kaum wanita sebagai bagian pemberdayaan. Isu kesetaraan gender, tingkat pendidikan, bahasa, norma sosial dan budaya, menjadi sebab mengapa wanita kurang menguasai dunia digital.

Wanita yang menguasasi dunia digital sebagian adalah pekerja atau mahasiswa yang menggunakan sarana tersebut untuk pekerjaannya, Itupun terbatas hal teknis seperti fungsi administrasi.  Padahal data statistik menunjukkan wanita berusia 20-39 tahun, berjumlah lebih banyak dibanding usia lainnya. Batasan umur tersebut menunjukkan usia produktif seorang wanita, karena pada usia 20-39 tahun kebanyakan kaum wanita sudah menyelesaikan pendidikan dasarnya, bekerja, berkeluarga dan membesarkan anak.

Sedangkan profesi terbanyak pada batasan umur tersebut adalah profesi ibu rumah tangga. Mengapa demikian? Karena wanita pekerja yang sudah menikah,dan memilki anak berprofesi ganda sebagai ibu rumah tangga (IRT) juga.

IRT merupakan sebuah profesi karena pekerjaan jenis ini memerlukan komitmen dan dedikasi khusus. Tidak semua wanita mampu sukses memegang jabatan sebagai IRT. Oleh karena itu IRT merupakan sasaran pemberdayaan wanita yang sangat potensial

Memberdayakan kaum ibu, artinya turut pula memberdayakan anak dan keluarga.. IRT memegang peranan penting dan strategis di dalam keluarganya. IRT mempunyai kuantitas waktu terbanyak untuk mengurus keluarga. Maka dapat dipastikan memberdayakan IRT sama dengan memberdayakan seluruh keluarga.

Hal ini pula yang dulu diperjuangkan oleh seorang Pahlawan Nasional bernama Kartini. Ia memperjuangkan nasib wanita dan kaum ibu agar memperoleh pendidikan, informasi, dan wawasan yang sama kuantitas dan kualitasnya dengan kaum lelaki.

Harusnya era digital memudahkan proses pemberdayaan IRT di Indonesia.  Banyak hal yang dapat dilakukan melalui berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi.  Salah satunya dengan menjamurnya produk internet murah yang dikeluarkan oleh banyak provider telekomunikasi di Indonesia.

Internet atau Interconnection-Networking. Merupakan sistem global dari seluruh jaringan komputer yang saling terhubung menggunakan standar Internet Protocol Suite (TCP/IP) untuk melayani miliaran pengguna di seluruh dunia. Menyediakan beragam informasi, pelayanan, kemudahan dengan satu kali klik. Peran Teknologi Informasi dan dunia digital antara lain, tersedianya informasi cepat, tepat, ragam dan akurat secara online yang dapat diakses dengan mudah oleh siapa saja, Informasi tersebut berupa pelatihan online, informasi Kesehatan, Pendidikan, Sosial, Budaya, Politik dan Agama.

IMG_20191203_134048

Sarana mengembangkan kreatifitas dan sosialisasi dengan menjamurnya blog pribadi maupun komunitas yang memanfaatkan jejaring sosial di Internet. Akses berkembangnya usaha kecil menengah (UKM) yang mayoritas dikelola oleh kaum wanita.  Hal ini bisa dilihat dengan banyaknya bisnis Online yang menjamur dan menjadi sarana tersendiri untuk meningkatkan konsumsi dan pendapatan keluarga. Akses aktualiasasi diri dengan banyaknya event perlombaan yang bisa diikuti secara online.

Namun manfaat diatas hanya bisa dinikmati oleh para IRT yang melek IT.  Bagaimana dengan IRT yang belum paham IT?. Caranya dengan menciptakan produk internet sehat, murah dan bisa diakses secara mobile, mengingat IRT adalah profesi yang paling sedikit punya waktu luang.  Selain itu bisa dengan mengadakan sosialisasi, pelatihan, workshop pemanfaatan IT dengan mengandeng banyak sekali LSM dibidang pemberdayaan wanita. Juga bisa dengan memberi fasilitas paket internet murah berlangganan untuk IRT yang ingin mengembangkan kemampuan berbisnis online.

Sehingga IRT tidak lagi hanya memanfaatkan dunia digital sebatas untuk berkomunikasi saja, melainkan dapat mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, memberdayakan diri juga memberdayakan keluarga. Sudah saatnya IRT Indonesia menjadi pengguna IT seutuhnya, maju dan berkembang seiring perkembangan teknologi.  Bangsa yang besar bukan  hanya bangsa yang menghargai para pahlawannya, tetapi juga bangsa yang menghargai Kaum Wanita dan Ibu Rumah Tangga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *