Ceritaku Melihat Sanitasi Aman Bersama Usaid

Penasaran, itu yang kurasakan saat menerima undangan tentang sanitasi aman. Seperti apakah? Karena terus terang belum pernah sekalipun mengikuti acara dengan tema sejenis.

Memang sebelum datang akhirnya aku sedikit mencari tahu dengan berselancar di sosial media. So kesimpulan yang awalnya aku dapatkan adalah seperti membuat septictank, membuat toilet sendiri.

Lantas bagaimana wawasan dan ilmu yang kudapat ketika hadir keesokan harinya di acara Sanitasi Aman bersama USAID? Kamu bisa check informasinya berikut ini.

Mini Talkshow Kapan Sanitasi Aman?

Ada hal yang menarik yang harus digaris bawahi. ” Kita harus bertanggung jawab atas apa yang Kita makan dan apa yang Kita keluarkan”

Para Narasumber yang telah hadir dan menambah wawasan tentang sanitasi aman
Para Narasumber yang telah hadir dan menambah wawasan tentang sanitasi aman

Menurutku itu sangat keren. Sesuatu yang Kita masukkan ke mulut Kita, akan berpengaruh ke diri Kita sendiri. Menjadi sehat atau sakit Kita sendiri yang merasakan/ menanggung. Namun bila urusannya terkait dengan apa yang Kita keluarkan ternyata dapat menjadi momok/masalah juga untuk orang lain.

Logikanya sesuatu dikeluarkan dari tubuh karena itu merupakan penyakit, bahkan tubuh memberi alarm khusus dan rasa sakit agar “sesuatu” itu lekas dikeluarkan.

Rupanya cara manusia di Indonesia membuang “sesuatu” itu beragam. Bahkan masih banyak loh yang membuang hajatnya dengan cara kuno, saat toilet belum ditemukan.

Terus terang awalnya aku tidak sanggup menuliskannya. Tapi kamu perlu tahu agar terbayang bahwa hal tersebut merugikan orang lain dan kita punya hak untuk mengingatkan orang tersebut agar tidak melakukan hal ini lagi. Yakni buang air besar sembarangan.

Seperti yang diceritakan oleh Ibu Ika Fransisca, Marketing & Behavior Change Advisor USAID IUWASH PLUS. bahwa masih banyak yg BABS di Indonesia. Bahkan DKI Jakarta saja yang menjadi Ibukota Negara ini. Masih ada sekitar 4persen manusia yang BABS.

Baru Yogjakarta satu satunya provinsi yang sudah memiliki sanitasi terbaik Pertama di Indonesia. Disusul oleh DKI Jakarta yang baru 96 persen.

Biasanya orang orang yang melakukan BABS karena mereka tidak memiliki toilet atau sanitasi yang Aman. Lebih memilih membuang hajatnya di atas sungai, dikubur dalam kebun Dan yang lebih ekstrim lagi dibungkus dalam kresek lalu dibuang.

Mual ya bacanya? Tapi memang itulah faktanya.

Fakta Berbahaya tentang Lumpur Tinja Mencemari Air Tanah

Jika BABS tidak diselesaikan maka akan banyak permasalahan yang timbul. Selain mencemari Mata, udara, air. Buang air besar sembarangan juga menjadi mata rantai perkembangan penyakit.

Lingkungan yang tercemar tinja, menjadi ruang yang baik bagi penularan penyakit infeksi. Beberapa jenis penyakitnya yaitu diare, kolera, demam tifoid, dan deman paratifoid, disentri, penyakit cacing tambang, ascariasis, hepatitis A dan E, penyakit kulit, trakhoma, schistosomiasis, cryptosporidiosis, dan malnutrisi.

Nah malnutrisi juga menjadi salah satu penyebab stunting. Yakni perawakan pendek. Tapi ternyata infeksi seperti diare juga dapat menyebabkan stunting. Seperti yang disampaikan oleh Ibu Umami saat kami menyusuri tepian sungai dan melakukan visiting kerumah rumah warga di daerah tebet.

Saat berada di Ipal Komunal yang mampu menampung 30 KK
Saat berada di Ipal Komunal yang mampu menampung 30 KK

“Stunting selain karena kurang nutrisi di 1000 HPK juga dapat disebabkan oleh infeksi (sakit) sehingga Otak memerintahkan tubuh menggunakan nutrisi melawan penyakit terlebih dahulu, sehingga nutrisi untuk membangun sel sel otak dan pertumbuhan menjadi berkurang. Faktanya Stunting bukan sekedar perawakan pendek biasa, tapi perkembangan kecerdasan/iq Anak yang tidak optimal.

So masih mau buang air besar sembarangan? Kelakuan seperti ini jelas jelas amat sangat merugikan orang lain.

Permasalahan bukan sampai punya toilet saja, tapi Kita juga harus memastikan bahwa sanitasi yang Kita punya itu aman. Di antaranya harus punya toilet dan septick tank sesuai standard SNI.

Hal ini aku ketahui saat melakukan visiting ke rumah warga. Setelah mendengarkan berbagai paparan materi dari narasumber. Kami berkesempatan melihat langsung para warga yang telah berhasil terbebas dari Kebiasaan buruk BABS menjadi memiliki sanitasi aman.

Seperti apa sih sanitasi Aman itu?

Kalian pasti kaget, bahwa memiliki septicktank saja tidak cukup. Kita harus tahu jenis septic tank yang Kita gunakan.

Berdasarkan informasi saat berkunjung ke lapangan. Septic tank yang dibangun oleh orang orang tua dulu (kakek nenek kita) ternyata belum sesuai. Septic tank tersebut Masih bocor di kedua sisi bawah. Sehingga mau nggak mau, cairan/Lumpur tinja jadi meresap kembali ke dalam tanah.

Ini informasi mengenai septictank yang sesuai standard SNI

Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI): 03-2398-2002 mengenai perencanaan septic tank dengan sistem resapan, diatur standar mengenai prosedur pembangunan septic tank, termasuk ukuran dan batasan kebutuhan minimum fasilitas tangki. Selain itu, juga persyaratan jarak minimum septic tank terhadap bangunan.

Bahan yang diizinkan untuk membuat penutup dan pipa penyalur air limbah adalah batu kali, bata merah, batako, beton bertulang, beton tanpa tulang, PVC, keramik, pelat besi, plastik, dan besi. Jarak yang disarankan antara septic tank dan bidang resapan ke bangunan adalah 1,5 m. Sedangkan jarak ke sumur air bersih adalah 10 m dan 5 m untuk sumur resapan air hujan.

Hal ini dimaksudkan agar air tanah tidak tercemari oleh adanya resapan Lumpur tinja. Selain septictank yang harus sesuai SNI. Ada hal lain yang juga harus Kita perhatikan.

Membersihkan/menguras septictank setiap 2-3 tahun sekali. Hal ini untuk mencegah terjadi hal hal yang tidak diinginkan salah satunya adalah ledakan septictank.

Untuk area DKI Jakarta. Kita bisa memanfaatkan layanan PD PAL Jaya.

FYI PD PAL Jaya adalah perusahaan daerah milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang bergerak di bidang jasa layanan pengelolaan air limbah domestik. Nah layanan sedot lumpur tinja bisa kamu manfaatkan dengan biaya 330.000 per 2000m² . Biaya layanan tersebut sudah termasuk biaya sedot, angkut dan olah limbah di fasilitas Pal PD Jaya.

Mobil layanan sedot lumpur Tinja PD PAL Jaya
Mobil layanan sedot lumpur Tinja PD PAL Jaya

Layanan yang diberikan juga profesional. Karena petugas akan memeriksa septictank dengan menggunakan senter, bukan korek API yang nantinya dapat memancing gas terbakar di dalam septictank.

Selain itu dilakukan juga proses pengadukan, sehingga selain cairan, padatan lumpur tinja juga ikut tersedot.

Kami sempat ikut menyaksikan proses penyedotan lumpur tinja di sebuah rumah warga di bilangan tebet. Dan memang sepertinya pelayanan PD PAL Jaya sangat profesional.

Senang sekali dapat mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh USAID.

FYI Aku penasaran Apakah USAID itu, dan menemukan informasi ini di laman Wikipedia. USAID adalah badan independen dari pemerintahan Amerika Serikat yang bertanggung jawab atas bantuan untuk bidang ekonomi, pembangunan, dan kemanusiaan untuk negara-negara lain didunia dalam mendukung tujuan-tujuan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Nah kegiatan ini merupakan salah satu bentuk dukungan USAID dalam Program USAID Indonesia Urban Water, Sanitation and Hygiene Penyehatan Lingkungan untuk Semua (IUWASH PLUS).

Dimana kegiatan ini merupakan sebuah inisiatif untuk mendukung Pemerintah Indonesia dalam meningkatkan akses air minum dan layanan sanitasi serta perbaikan perilaku higiene bagi masyarakat miskin dan kelompok rentan di perkotaan.

Salah satunya melalui campaign #KapansanitasiAman. Dan yang membuat kami para hadirin yang hadir saat itu merasa bangga dan terharu adalah saat bertemu para warga yang telah berinisiatif membuat sendiri toilet dan septictank di rumah masing masing, Setelah berpuluh puluh tahun melakukan praktek BABS.

Bapak Wahyono

Sebut saja Pak Wahyono yang menggelontorkan uang Sebanyak Lima juta rupiah dari kantongnya pribadi. Untuk membuat septictank yang aman dan sehat.

Bapak Wahyono
Bapak Wahyono

Pak Wahyono merasa keputusannya sangat tepat sekali. Beliau ingin keluarga, Anak dan cucunya bisa memiliki kehidupan yang lebih sehat.

Pak Wahyono pun tidak mau cucunya terkena infeksi penyakit dan menyebabkan stunting sehingga dengan mantap ia memutuskan membuat sanitasi aman untuk keluarganya.

Sama seperti Ibu Wiwik yang juga memutuskan membuat sanitasi aman dengan membangun 4 septictank untuk keluarga besarnya. Bahkan Ibu Wiwik rela mengeluarkan yang 20 juta rupiah tanpa bantuan Pemerintah dll. Untuk membuat sanitasi aman.

Ibu Wiwik juga menginspirasi warga lain mengajak mereka juga membangun sanitasi aman dan tidak lagi langsung membuang BABs ke sungai.

Hal ini membuatku menyadari banyak masyarakat Kita yang sebenarnya mampu memperjuangkan sesuatu yang akan membuat hidupnya menjadi lebih baik. Sehingga tidak harus menunggu bantuan dari pihak luar. Selagi bisa mengupayakan sendiri Kenapa harus menunggu lebih lama?

Semoga makin banyak Wahyono Dan Wiwik lainnya yang mampu memperjuangkan kehidupan mereka sendiri dan menginspirasi banyak orang.

So teman teman sampai disini dulu ceritaku tentang #KapanSanitasiAman bersama USAID dan PD PAL Jaya. Semoga dapat mengambil manfaatnya ya. Dan jangan lupa check dulu.. septictankmu Aman tidak?

Bersama teman teman blogger meninjau contoh sanitasi Aman di bilangan Tebet
Bersama teman teman blogger meninjau contoh sanitasi Aman di bilangan Tebet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *