Peringatan Hari Kesehatan Jiwa 2019, Fisik yang Sehat didukung Jiwa yang sehat

Aku kaget waktu dapat notifikasi ajakan donasi untuk seorang teman. Donasi yang dimaksud Tentu bukan sesuatu yang biasa. Tapi donasi untuk biaya konsultasi ke psikiater.

Temanku cerita, bahwa salah seorang teman kami kemungkinan mengalami PPD, Post partum depression.

Setelah melahirkan anak keempatnya. Dipacu keadaan ekonomi yang sedang tidak baik. Plus Suami yang sedang menganggur karena PHK massal di kantornya.

Teman kami ini kabarnya sudah berhari hari merasa putus asa bahkan pingin bunuh diri. Bisa jadi ia merasa lelah. Lelah fisik sekaligus mental.

Padahal aslinya saat masih single dulu. Dia adalah perempuan yang ceria dan penuh optimis. Makanya aku benar benar kaget dengan kenyataan yang terjadi saat itu.

Tapi ternyata yang kami lakukan sudah benar. Beberapa teman yang tidak jauh dari tempat tinggalnya, bertugas untuk mendatangi sekaligus mencari tahu apa yang sedang terjadi.

Teman teman yang jauh dapat membantu dengan memberikan donasi uang. dan yang terpenting ada yang mendampingi dan mengawasi teman yang sedang terkena mental illness

Aku tahu hal tersebut benar saat mengikuti mini talkshow di kementrian kesehatan dalam rangka peringatan hari kesehatan jiwa sedunia 10 oktober 2019

Mungkin hingga hari ini semua orang masih membicarakan tentang Arthur Fleck dalam film Joker. Juga bunuh dirinya Sulli salah satu artis dari korea.

Yuph tema hari peringatan kesehatan Jiwa sedunia kali ini adalah tentang mental health promotion and prevention suicide. Bunuh diri yang sekarang sepertinya telah banyak terjadi di kalangan para generasi muda.

Bersama 3 Narasumber yakni Dr. dr Fidiansjah. M. A Sp. Kj MPH. (Direktur pencegahan dan pengendalian masalah kesehatan jiwa dan Napza), Novi Yulianti, M.PSI (perwakilan komunitas Mother Hope), dan Dr. Indria Laksmi Gamayanti M.SI (Ikatan Psikolog Klinis Indonesia)

Menurut Dr Fidi, raga yang sehat harus punya jiwa yang sehat pula. Kedua hal ini memang saling mempengaruhi. contohnya di drakor Dr. Jhon yang kutonton beberapa waktu lalu. Para pasien dengan penyakit berat dan sedang sekarat amat banyak yang tidak tahan dan memutuskan mengakhiri hidupnya.

Berdasarkan UU No. 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, pengertian kesehatan jiwa yaitu kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya

Dan memang ternyata mental illness ini tidak dapat dianggap sepele lagi. Apalagi berdasarkan data Riskesdas (2013), Prevalensi orang dengan gangguan jiwa berat 1,7 (402.900 jiwa), sedangkan prevalensi orang dengan gangguan mental emosional 6,0 % (14.220.000 jiwa)

Sedangkan Proporsi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang pernah dipasung 14,3% (angka Nasional), 10,7% (di perkotaan) dan 18,2% (di pedesaan).

Angka angka tersebut menunjukkan bahwa sebagai bagian dari masyarakat, keluarga, kakak, ibu, bapak, adik dll harus jeli dan turut ambil bagian bila melihat atau mengetahui tanda tanda depresi pada orang terdekat.

Seperti yang diceritakan oleh mbak Novi Yulianty dari komunitas mother hope. Beliau sempat mengalami PPD selama 2 tahun tanpa ada seorangpun yang tahu. Bahkan suaminya sendiri. Walaupun akhirnya dia dapat banget Dan mengikuti terapi yang diberikan oleh Dosen pembimbingnya. Namun memendam rasa depresi sendirian itu bukan sebuah hal yang menyenangkan.

Jangan salah loh, depresi itu tidak hanya bisa hadir pada orang biasa saja. Pada orang dengan basic edukasi psikologi seperti mbak Novi pun bisa terjadi. Jadi jangan sepelekan tanda tanda depresi yang mungkin ada di sekitar kita.

Seperti yang disampaikan oleh Dr.Indria Laksmi Gamayanti, M.Si “Sekitar 800 ribu orang meninggal karena bunuh diri setiap tahun, Kematian akibat bunuh diri setiap 40 detik”

Dan jangan salah loh ternyata dibalik satu kematian akibat bunuh diri yang berhasil, ada percobaan bunuh diri sebanyak 20 kali yang tidak berhasil.

Makanya bunuh diri adalah penyebab kematian no.2 untuk masyarakat berusia 15 — 29 tahun. Prevelensi bunuh diri di Indonesia 3.7 per 10.000 penduduk setiap tahun loh.

Bunuh diri diyakini terjadi karena beberapa Hal. Rasa lonely/ sendirian yang sangat berat. Korban bully. Permasalahan ekonomi/hutang. merasa tidak dibutuhkan/tidak berguna, lelah dengan kehidupan yang dihadapi, putus asa, merasa tidak ada yang mendukung / peduli, merasa dijauhi teman / kerabat dan perasaan tertekan.

Dan berita bunuh dirinya Sulli sebenarnya cukup mengkhawatirkan karena depresi itu bisa menular. Dan khawatirnya bunuh diri yang dilakukan oleh Artis ternama bisa jadi contoh.

Orang orang banyak mengira permasalahan bisa selesai setelah bunuh diri.

Apa yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan nyawa nyawa yang berharga ini. Tentu saja lewat perhatian. Bila menemui sign dari teman dekat, anggota keluarga.

Seperti sedih terus menerus. Menghindar/menjauhkan diri dari orang lain. Sering banget menangis. Pernah berkata ingin mati/mengakhiri hidup. Sering memegang perlengkapan untuk bunuh diri seperti pisau, Tali, racun dll

Cari orang terdekat dan sarankan si pasien untuk mendapatkan bantuan psikolog professional. Apalagi kabarnya untuk pengobatan mental illnes akan segera masuk tanggungan BPJS. Sehingga tidak perlu khawatir untuk berobat.

Yuk Mari lebih peduli dengan sekitar. Tidak ada penyakit yang Tak ada obatnya. Tidak ada permasalahan yang tidak ada jalan keluarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *