Toleransi Sepiring Pempek

Sungguh hidangan ini membuat mata merem melek, lidah bersatu padu membantu gigi mengunyah, teksturnya kenyal tapi mudah putus.  Kuahnya asem, manis, pedas terasa segar, varian isinya variatif. Yuph menu makanan bernama pempek, sudah sangat dikenal. Siapa sih yang nggak tahu pempek.  Sini tunjuk tangan yang belum tahu pempek, nanti aku infoin dimana beli pempek yang enak. Hehehe, dikira mau nraktir ya? Oh tentu   tidak.

Jadi pempek itu adalah makanan khas dari kota Palembang.  Terbuat dari tepung tapioka dan daging ikan. Sejarahnya dulu karena seorang apek (lelaki tua berdarah tionghoa) yang berjualan ikan merasa perlu mengawetkan dagangan ikannya yang masih berlebih.

Terinspirasi dari hidangan olahan daging lainnya seperti bakso dan siomay. Pempek merupakan menu olahan dari daging ikan yang dicampur dengan tepung.

Pempek buatanku
Pempek buatanku

Rupanya olahan ini disukai oleh banyak orang, dan nama panggilan Apek, lambat laun menjadi pempek. Hidangan pempek ini kini menjadi menu makanan khas dari kota Palembang.  Sebenarnya bukan cuma berasal dari Palembang saja, karena hampir ditemui di seluruh Sumatera Bagian Selatan termasuk pecahan SUMSEL yakni Jambi, Lampung dan Bengkulu.

Artinya pempek sudah sangat melekat dan begitu dicintai masyarakat.  Karena semua kalangan, usia, jenis kelamin, agama, tingkat pendidikan begitu menerima pempek di meja makan mereka.

Andai toleransi seperti dalam sepiring pempek yang mana bahan bahannya berasal dari lautan dan daratan kemudian dipertemukan di dapur dan diramu sedemikian rupa.  Tentu saja akan indah sekali bukan? Sama seperti para penikmat pempek ini, kebanyakan adalah orang orang yang sebenarnya menyukai keberagaman.

Isu radikalisme tentu tidak akan mudah mencemari persahabatan para penikmat pempek.  Sebab dalam sepiring pempek ada beragam isian dan jenis.  Ada kapal selam, telor  kecil, pempek lenjer atau kelesan, pempek keriting, pempek tahu, adaan, dan pempek pistel.  Itu jenis pempek yang lama, sekarang muncul pempek modifikasi yang berisi keju cheddar, sosis maupun mozzarella yanfg menambah nikmat barisan pempek.

Walau ada pempek kapal selam yang terkesan sangat “RADIKAL”, dimana seseorang bisa dengan mudahnya melahap sebuah kapal selam. Sehingga kapal selam terasa murah dan receh.

Pempek Kapal Selam
Pempek Kapal Selam

Bahkan ada sebuah lelucon yang bercerita demikian. Disaat Pak Habibi baru sanggup membuat pesawat terbang,  seorang emak emak asli Palembang bernama Habibah sudah sanggup memproduksi puluhan Kapal Selam dan Roket setiap harinya untuk di jual.

By the way toleransi sepiring pempek ini bukan isapan jempol semata.  Aku yang sekarang sudah berusia 30 an, menggunakan jilbab lebar dan berasal dari Palembang asli.  Merasa toleransi di kampung kami  Lorong Gerunik Kapten A Rivai Palembang sangatlah baik baik saja.

Tetanggaku ikut berziarah
Tetanggaku ikut berziarah

Rumah kami berada di lingkungan multi etnis.  Tetangga depan adalah keturunan Arab Pakistan, tetangga samping yang satu halaman adalah keturunan tionghoa.  Tetangga belakang keturunan Jawa, dan di samping kanan ada tetangga bersuku Batak.

Alhamdulillah toleransi kami tetap terjaga dari sejak nenek kakek hingga turun temurun sampai anak cucu.  Kakekku mewakafkan sebagian tanah untuk dijadikan jalan. Semua tetangga, agama apapun bisa lewat melalui jalan tersebut.

Belum lagi halaman rumah kami yang cukup luas dan sering dipinjam sebagai tempat berkegiatan maupun dijadikan tempat pesta pernikahan.  Semua bisa pakai, tentu saja sebelum itu cukup izin dan setelahnya dibersihkan.

Setiap hari raya Idul Fitri, Ibu dan tante tanteku menyiapkan hidangan lebaran dalam wadah wadah dan ditaruh di nampan, untuk selanjutnya diantarkan ke tetangga sekeliling rumah.  Kami pun sebagai muslim kerap mengunjungi dan silahturrahim ke tetangga sebelah kalau mereka mengadakan hajatan.

Tentu saja ada beberapa aturan yang tetap tidak bisa kami langgar terkait pemahaman kami sebagai muslim yakni aturan makanan halal dan ucapan selamat hari raya tertentu.  Toh tetanggaku tidak ada yang merasa sedih sekedar tidak menerima ucapan selamat dari kami.  Yang penting bagi mereka kalau terjadi sesuatu, dan perlu bantuan. Kami selalu ada.  Begitu arti toleransi sebenarnya.

Seperti cuka pempek yang memberikan kejutan rasa. Walau sedikit pedas, asam, namun sebenarnya terbuat dari gula aren khusus yang pada dasarnya manis. Begitupun toleransi.  Menurutku toleransi itu bukan berarti mengikuti ritual agama lain, atau mencampur adukkan ritual agama sendiri dengan agama lain. Tapi menjaga diri dari mencampuri, dan membiarkan penganut agama lain beribadah sesuai keyakinan mereka.

Toleransi sepiring pempek juga mengajarkan kami mencoba dan memahami orang lain.  Suatu ketika Ibu, aku dan beberapa adikku silahtrurrahim ke acara tradisional tionghoa, Imlek. Tetangga kami yang beragama non muslim, dengan sigap hanya menghidangkan pempek.  Karena kata mereka cuma pempek yang saat itu mereka buat tanpa ada bahan yang tidak halal bagi kami.

Pempek memang terbuat dari ikan, dan biasanya dibuat tanpa tambahan bahan macam macam lainnya. Artinya tetanggaku itu memahami bahwa bagi muslim seperti kami, ada beberapa bahan makanan yang terlarang terkait kepercayaan agama kami.  Begitu tetangga mengerti dan paham. Rasanya sungguh membahagiakan.

Dan kisah sepiring pempek ini muncul dimemoriku saat mengikuti workshop kominfo membuat konten kreatif hankam hari ini.  Dalam materi yang disampaikan oleh Bapak Kolonel Beben Nurpadillah, M I Kom.  “Warga negara dan sumber daya alam  serta sarana dan prasarana nasional merupakan komponen cadangan yang tetap penting dalam menyokong pertahanan negara”

Jadi sebagai warga negara yang baik.  Membangun negara yang damai itu bisa dimulai dengan kehidupan bertetangga. Karena selain keluarga, tetangga adalah orang yang akan duluan membantu kita kalau terjadi apa apa.

Toleransi ini juga berlaku untuk tetangga di dunia maya, yakni orang orang yang berada dalam listfriend kita.  Kalau memang pemikirannya agak bersebrangan dan tidak sesuai dengan pemikiranku. Aku lebih memilih menghindari perdebatan. Bila perlu diluruskan ya diluruskan dengan baik baik. Kalau tidak ya sudah doakan saja, ada orang lain yang mampu meluruskan/menjelaskan kepadanya.

Jangan sampai perbedaan pemikiran bikin kita jadi bermusuhan. Ntar kan nggak enak kalau misalnya perlu pinjam  garam, gula, bawang putih yang kehabisan  ke tetangga saat mau masak.  Oke deh segini saja ceritaku hari ini.  Semoga nanti dimasa depan aku bisa menulis dengan lebih mendalam.

“Pempek lenjer teraso iwaknyo

Jangan lupo makan pake cuko

Biar hidup idak sengsaro

Baek baek lah bertetanggo”

Salam ukhuwah Salam damai buat semua.

Makan bareng tetanggaku
Makan bareng tetanggaku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *