Hutan Sumber Pangan Jelas Bukan Praktik Kebun Pohon Monokultur

Hutan Sumber Pangan Jelas Bukan Praktik Kebun Pohon Monokultur ( Sebuah wawasan baru dari Blogger Gathering Forest Cuisine)

Perempuan cantik berblazer hitam di depan kami tak kuasa menahan air matanya. ” Saya survival kanker, sejak 2012. Tapi sejak bersentuhan dengan alam, menjaga alam, makan langsung dari alam. kesehatan Saya jadi lebih baik” ujar Mbak Tresna Usman Kamaruddin Amd. Perempuan mungil yang rambutnya dicepol ke belakang itu bukan sembarang perempuan. Beliau seorang WALHI Champion yang berasal dari desa Sakuli Kolaka Sulawesi Tenggara.

Mbak Tresna Salah satu Walhi Champion
Mbak Tresna Salah satu Walhi Champion

Memang mbak Tresna sekarang tinggal di Depok karena urusan bisnis. Namun kecintaannya akan hutan di kampung halamannya membuatnya tetap rela mondar mandir Depok – Kolaka.

Senada dengan Mbak Tresna, Ibu paruh bayah yang berpakaian adat Sumatera Barat berwarna biru cerah lengkap dengan aksesoris dan tengkuluknya. Beliau pun merasa sedih tatkala menonton video yang menampilkan pembakaran hutan.

Di desa asalnya  Ibu Sri Hartati adalah seorang pioneer sekaligus pemimpin usaha pengolahan sirop buah pala Bayang Bungo Indah.

Siapapun yang merusak hutan kami, akan kami kejar sampai dapat” Seru lantang perempuan asli Minang ini.

Semangat Bu Tati memotivasi yang hadir untuk berbuat lebih Demi hutan Indonesia
Semangat Bu Tati memotivasi yang hadir untuk berbuat lebih Demi hutan Indonesia

Beliau berjanji hutan yang mereka tinggali, jaga sebagai tempat mencari rezeki dan menggantungkan harapan tidak akan pernah tersentuh tangan tangan nakal oknum penjarah dan pembakar hutan.

Aku bertemu dan menyaksikan mereka berdua di acara Forest Cuisine Blogger Gathering hari sabtu yang lalu. Kenapa respons mereka bisa seperti itu? Begini ceritanya.

Blogger Gathering 30 Finalis Lomba Blog Forest Cuisine

Pagi itu aku berangkat dengan suasana hati gembira. Bagaimana tidak? Tulisanku tentang resep jadul nenek yang menggunakan ikan gabus yang sekarang di Palembang, sudah tak sebanyak dulu. Ternyata masuk sebagai 30 finalis lomba blog forest cuisine.

Para Finalis Lomba Blog
Para Finalis Lomba Blog

Kebetulan pula, rumahku cuma 10 menit dari Almond Zucchini. Aku pikir aku bakal jadi peserta pertama yang hadir. Karena jam tanganku menunjukkan pukul 09.13 WIB. Rupanya sampai di lokasi pertemuan aku adalah peserta ke 13 yang sudah registrasi. Artinya dari 30 orang peserta sudah 45 persen datang.

” Rajin semua ya, pantes aja pada menang” selorohku pada mbak Ade Ufi yang duduk di kursi depan.

Alhamdulillah menjelang pukul 10.00 pagi. Acara pun dimulai, namun sebelum itu kami dipersilahkan untuk mengambil foto produk produk pengembangan ekonomi lokal di stand WALHI.

Hitung-hitung bisa jadi konten yang nanti bisa disebarluaskan di sosial media masing masing.

Aku membeli salah satu garam herbal
Aku membeli salah satu garam herbal

Acara ini dipandu MC cantik mbak Fransiska Soraya, yang kocak banget sehingga membuat suasana acara jadi meriah.

Sebelum dimulai kami diberikan ice breaking dulu, berupa game konsentrasi. Menggunakan beberapa nama pangan hasil hutan yang setelah jadi games ternyata bisa jadi jawaban pertanyaan kuis.

Kreatif ya panitianya. Untunglah aku beruntung bisa menjawab pertanyaan kedua. Yakni makanan dari Sagu. Ini sagu dari pohon rumbia ya bukan tapioka dari pati singkong yang selama ini juga sering disebut sebagai tepung sagu.

Sebenarnya aku ingin menjawab papeda dan kapurung. Dua menu ini pernah aku cicipi saat mengikuti acara serupa tentang pelestarian lahan gambut.

Tapi entah kenapa yang keluar malah pempek. Hahahah memang aku ini Palembang minded. Untunglah jurinya berbaik hati membenarkan jawabanku.

Duh lirikan mataku tandaku happy
Duh lirikan mataku tandaku happy

Dan akhirnya 3 orang peserta yang menjawab pertanyaan kuis di awal mendapatkan bingkisan dari WALHI. Uhuy nanti di bawah aku ceritain dapat apa saja.

Beres ice breaking dan kuis. Kami disuguhi tontonan video bertajuk ” Kita masih di Planet Bumi” yang bisa juga kamu tonton disini.

Kalau dipikir-pikir, memang tidak semudah itu juga pindah ke planet lain. Walau banyak film yang menceritakan ada planet lain. Tetapi teknologi manusia sekarang belum tentu bisa menjamahnya. Daripada repot sebenernya ada cara sederhana yang dapat Kita lakukan. Yaitu dengan merawat bumi. Salah satunya turut menjaga dan merawat hutan.

Eh tapi kan Kita orang kota, gimana caranya orang kota bisa ikut menjaga bumi? Nah dibincang santai tentang pentingnya hutan sebagai sumber pangan yang nantinya diisi oleh 4 perempuan hebat ini bakal dapat clue atau petunjuk apa sih yang harus Kita lakukan.

IMG20200229102733

Pembicara pertama adalah mbak Khalisah Khalid Eksekutif Nasional WALHI. Yang kedua adalah Tresna Usman Kamarudin WALHI Champion dari Kolaka Sultra, yang ketiga adalah Ibu Sri Hartati WALHI Camphion dari Sumatera Barat Dan yang terakhir adalah Windi Iwandy seorang FoodBlogger yang juga peduli hutan.

Mau tahu apa saja yang mereka sampaikan. Cus teruskan membaca postinganku ditemani segelas teh hangat dan sepiring kacang rebus. Karena ceritanya akan agak panjang.

Hutan Sebagai Sumber Pangan, Walhi Mendorong Perlindungan dan Penyelamatan Hutan.

Mbak Alin begitulah sapaan akrab dari Mbak Khalisah khalid mengajak kami yang hadir di acara untuk menyamakan pandangan terlebih dahulu. Menurut perempuan berkacamata yang mengenakan blouse warna hijau itu, hutan itu bukanlah seonggok tanaman hijau saja.

Alin Eksekutif Nasional WALHI
Alin Eksekutif Nasional WALHI

Padahal hutan itu adalah ruang hidup, kesatuan ekosistem. Yang namanya ekosistem itu heterogen, bukan cuma pohon saja, ada satwa liar, ada tanaman obat, ada sumber pangan dan juga ada kebudayaan yang lahir dari sebuah hutan. Tak cuma itu biasanya di sekitar hutan ada masyarakat adat yang tinggal di sana sehingga menjadikan hutan sebagai sebuah identitas masyarakat.

Inilah korelasi kenapa hutan tidak boleh hilang ataupun punah. Karena terkait kebudayaan dan masyarakat adat yang nantinya pun bisa hilang. Sambung Mbak Alin lagi.

Hutan sebagai ruang hidup bagi masyarakat adat yang tinggal di sekitarnya dimanfaatkan sebagai apotik,  atau supermarket dan juga manfaatnya tidak hanya untuk mereka. Kita pun masyarakat Kota dapat juga mengambil manfaat dari hutan lewat konsumsi produk-produk hutan.

Mbak Alin menekankan bahwa ” Kalau seragam itu bukan hutan. Jadi kalau cuma akasia saja, atau sawit saja. Itu jelas bukan hutan, itu cuma kebun kayu

Itulah kenapa kehidupan sosial kita yang beragam sebenarnya mengambil dari filosofi alam lanjut mbak Alin lagi.

” Lantas bagaimana peran perempuan dalam mengelola hutan ini” Mbak Fransiska memberikan pertanyaan lanjutan pada mbak Alin.

Peran Perempuan dalam mengelola hutan itu tentu sangat besar dan banyak. Jawab mbak Alin yang ternyata baru saja pulang dari kunjungannya ke hutan hutan di Kalimantan dan di Mentawai.

Mbak Alin pun bertanya kepada para peserta lomba, sudah adakah yang pernah berkunjung ke hutan? Aku pingin menjawab tapi aku belum pernah ke hutan yang beneran. Kalau cuma hutan wisata ya sering seperti di Banyuwangi kemarin itu.

Makanya kuurungkan menjawab. Karena sudah tercerahkan bahwa monokultur bukan hutan. Sebab hutannya tidak memiliki fungsi ekologis.

Kembali ke peran perempuan dalam melestarikan hutan. Perempuan dapat memegang peranan penting. Salah satunya perempuan dapat melakukan pengelolaan hutan secara sustainable atau berkelanjutan.

Contoh nyatanya seperti yang telah dilakukan oleh 2 orang WALHI CHAMPIONS Ibu Sri Hartati dan mbak Tresna.

Lebih lanjut Mbak Alin menceritakan bahwa sebenarnya masih banyak ibu ibu seperti Ibu Tati di  pelbagai wilayah hutan Indonesia.

Salah satunya di rimba terakhir di Kalimantan. Di Dusun Silit yang sekarang menjadi satu satunya Dusun yang masih mengelola hutan. Dusun sekitarnya sudah habis karena dijadikan monokultur sawit.

Dusun Silit sedang mempertahankan rimba terakhir di sana. Dan salah satu komunitas yang didalamnya ada perempuan, yang sangat kuat bekerja keras dalam menjaga dan mengelolah hutan.

Peran perempuan juga dapat mendukung pemerintah dalam memerangi stunting. Dengan menjaga pangan keluarga, dimulai dengan menanam pangan di pekarangan.

Dari segi ekonomi, perempuan juga dapat memegang peranan penting dari hasil hutan non kayu, contohnya rotan, maupun tanaman bemban.

Bahkan Mbak Alin menggunakan produk tas dari anyaman Bemban loh. Dengan warna hijau dihiasi ornamen bunga bunga kecil. Tak kalah cantik dengan tas tas kulit brand ternama.

Sayangnya pengembangan sektor ekonomi non kayu ini belum mendapat dukungan serius dari pemerintah tapi sudah dapat hambatan seperti yang ada di berita berikut ini.

IMG_20200304_210224

Sehingga Mbak Alin sendiri meyakini, kalau hutan Indonesia  yang menjadi hutan paru paru dunia terbesar di Dunia setelah Brazil dan Kongo akan menjadi lebih berdaya bila diolah oleh komunitas dan perempuan.

Hutan Lestari Sungai Yang Jernih Jadi Sumber Energi Mikro Hidro

Hutan bisa menjadi apotek hidup bagi masyarakat. Apalagi infrastruktur kesehatan di Indonesia belum menjangkau pelosok pelosok. Orang orang yang tinggal di pedalaman terbukti lebih sehat karena tidak dicemari oleh limbah pabrik dan polusi.

Sungai mengalir sangat jernih, airnya bening bahkan ikan ikan yang berenang bisa kelihatan”  seru mbak Alin antusias.

Nah hutan yang lestari dan sungai yang bersih inilah yang dapat menjadi sumber energi mikrohidro. Hal ini terjadi karena campur tangan penjagaan dan pengelolaan masyarakat adat yang tinggal disekitarnya. Harapan mbak Alin Pemerintah mau mendukung masyarakat adat ini mempertahankan wilayah hutan adat mereka dari monokultur sawit ataupun pertambangan.

Dampak pembakaran hutan terhadap fungsinya sebagai sumber pangan juga tak luput disoroti oleh Mbak Alin. Karena hutan yang rusak atau terbakar tentu saja menyebabkan keterancaman pangan bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Jadi bukan hanya dari kabut asap saja yang dapat merusak kesehatan Kita. Kebakaran hutan juga mengancam hilangnya sumber pengetahuan dan kearifan lokal.  Bila sumber pengetahuan ini hilang bisa dipastikan identitas masyarakat adat juga hilang. Jadi yang perlu dilestarikan bukan cuma tarian dan baju adat saja, kebudayaan masyarakat adat juga wajib Kita jaga. Bila hutan rusak di hulu, dampaknya pun bisa sampai ke hilir

Apa yang dapat Kita lakukan sebagai masyarakat perkotaan agar dapat turut melestarikan hutan.

Salah satu yang bisa kita lakukan adalah bijak dengan konsumsi, tutur mbak Alin. Kalau yang ini aku mendukung banget, apalagi masyarakat Kota menjadi penghasil sampah terbesar. Makanan yang tidak habis, bahan pangan yang terbuang karena tak sempat dimakan, sampah garmen dan masih banyak lagi.

Mengurangi ketergantungan terhadap produk produk turunan sawit, produk kertas dll.

Aku pikir yang disampaikan oleh Mbak Alin ini persis sama dengan yang dianjurkan oleh dokter giziku. Aku pun sudah lama meninggalkan konsumsi minyak sawit. Sekarang aku ganti dengan minyak kelapa, Kenapa kelapa? Karena kelapa adalah produk hasil Indonesia. Lucu juga bila mengganti minyak sawit dengan minyak biji anggur ataupun zaitun. Karena itu bukan produk tanaman asli Indonesia.

Selain itu Kita juga dapat mensupport komunitas hutan dengan membeli produk mereka seperti aneka minyak minyak obat. Aneka suplemen, garam herbal dll. Memang terkesan lebih mahal karena produk produk komunitas ini hasil inisiatif warga sendiri. Belum ada dukungan dari pemerintah.

Tapi bila Kita mau membantu dengan menggunakan produknya tentu saja akan memberikan impact yang cukup besar bagi pengembangan Ekonomi komunitas. Makanya aku dan beberapa blogger yang hadir ikut membeli produk produk komunitas binaan WALHI. Salah satunya adalah garam herbal.

Aneka produk berbasis ekologi hutan
Aneka produk berbasis ekologi hutan

Membelilah kepada produsen asli yakni petani. Apalagi sekarang banyak petani yang sudah tidak memiliki lahan pertanian sendiri. Mereka adalah petani gurem atau buruh Tani. Untuk itulah WALHI mengeluarkan kebijakan Wilayah Kelola Rakyat untuk membereskan masalah seperti ini.

Mbak Alin juga mengingatkan bahwa kerusakan ekologis akan menyebabkan Bencana ekologis seperti banjir, longsor, kebakaran yang disebabkan oleh salah mengurus alam.

Yang terkena dampaknya tidak hanya masyarakat sekitar tapi Kita sebagai orang kota pun akan terkena dampaknya.

Mbak Alin yakin sekali bahwa solusi dari permasalahan kelestarian hutan harus diserahkan ke komunitas dan masyarakat adat sekitar. Karena mereka memiliki pemahaman, pengetahuan dan kearifan lokal, sebab hutan menjadi identitas  dan nilai nilai hidup mereka.

Perjuangan Masyarakat Komunitas Hutan Sakuli Kolaka Sulawesi Tenggara.

Kali ini giliran Mbak Tresna yang berwajah ayu yang ternyata sudah 4 tahun membantu masyarakat komunitas disekitar hutan. Dan saat ini sedang dalam tahap pengukuran lahan untuk para pemegang izin pelestarian hutan.

Mbak Tresna termotivasi memperjuangkan hak masyarakat terhadap hutannya karena merasa hutan di kampung halamannya ini banyak sekali manfaatnya.

Selain itu mbak Tresna juga melihat para pemuda di kampungnya bangga bekerja sebagai petani, tapi sayangnya nggak mendapatkan lahan. Melalui WALHI mbak Tresna memperjuangkan bagaimana masyarakat dapat memanfaatkan lahan hutan dengan sebaik baiknya.

Mbak Tresna ternyata memang berlatar belakang pertanian. Kakeknya adalah seorang petani. Karena itu beliau melihat banyak sekali potensi hutan salah satunya sebagai sumber pangan. Makanya komoditas yang ditanam pun tak jauh dari jenis tanaman pangan. Seperti sayuran, tanaman tumpang sari, cengkeh, serai, dan lada.

Hambatan yang dihadapi adalah pemasaran dan akses untuk mengelola hutan. Sebelumnya mereka sudah pernah mengelola hutan adat. Tapi terhambat kebijakan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.

Mbak Tresna yang sangat mencintai Alam
Mbak Tresna yang sangat mencintai Alam

Selain terus memperjuangkan perizinan lahan. Mbak Tresna juga mengedukasi ibu ibu disana bagaimana mengelola sampah plastik yang masih bernilai ekonomis.  Sehingga menambah sumber penghasilan para ibu rumah tangga disana.

Beliau juga menginisiasi gerakan menanam pohon di pekarangan yang mengandung kearifan lokal salah satunya adalah pohon sagu.  Yup pohon sagu ternyata bukan hanya dari Papua saja. Di Sulawesi pun merupakan penghasil pohon sagu namun keberadaannya sekarang semakin langka. Bahkan makanan masa kecil yang terbuat dari tepung sagu bernama cako cako sekarang sudah tak ada lagi.

Semoga langkah perjuangan Mbak Tresna dan kawan kawan membuahkan hasil yang gemilang yak. Aamiin

Pengolahan Makanan Hasil Hutan Sirop Pala Bayang Bungo Indah

Selanjutnya Mbak Fransiska beralih bertanya kepada Ibu Sri Hartati. Bahkan beliau meminta Ibu Tati berdiri di tengah tengah ruangan.  Selain karena outfit yang unik. Audience juga tertarik mendengar cerita pemanfaatan daging buah pala oleh Komunitas Ibu Sri Hartati.

Ibu Sri Hartati
Ibu Sri Hartati

Ibu Tati sempat sesenggukan saat mulai bercerita. Beliau emosi, dan sangat sedih saat mengetahui banyak hutan di Indonesia terbakar oleh ulah manusia manusia jahat.

Walau begitu Ibu Tati merasa bahagia huran mereka yang menjadi sumber pangan sekaligus sumber Ekonomi masyarakat di sana. Terjaga kelestariannya lewat tangan tangan terampil para bundo kanduang, adik adik pemuda, bapak petani dan semua unsur masyarakat di sana.

Sirop Pala Bayang Bungo Indah hadir dan menjadi salah satu komoditas unggulan program pengelolaan hutan untuk kesejahteraan perempuan bersama WALHI Sumatera Barat.

Awalnya daging buah pala di daerah tersebut terbuang begitu saja. Sekedar diambil bijinya yang memang banyak diolah sebagai  bumbu masakan. Setelah WALHI terlibat, pemanfaatan daging buah pala menjadi sirop pun melibatkan 103 orang perempuan diawal berdirinya. Hingga sekarang mengecil menjadi sekitar 66 orang saja. Karena terhalang modal usaha.

Sirop pala ini banyak manfaatnya, salah satunya mengobati insomnia. Nah kalau kamu kepingin membeli sirop pala ini bu Tati menerima orderan secara online kok.

Serius aku bangga banget, bisa ketemu dengan Ibu Tati, diusia beliau yang sudah senja.  Beliau tetap berkontribusi terhadap pelestarian hutan.

Kami mirip ya
Kami mirip ya

Hutan Itu Hidup Hasilnya Baik Untuk Kesehatan.

Nah selanjutnya berkenalan dengan Mbak Windy Iwandy selebgram yang suka mereview makanan tapi tetap cinta hutan.

Mbak Windy sangat menyukai aneka makanan dari sagu. Bahkan pernah mencicipi papeda langsung dari asalnya.  Walau begitu untuk Makanan yang berasal dari hewan, mbak Windy sudah mulai mengurangi karena kecintaannya terhadap hewan.

Namun Perempuan berambut panjang lurus dan berparas cantik ini sangat percaya apapun yang dihasilkan oleh hutan Kita tentulah bermanfaat bagi kesehatan.

Windy Iwandy
Windy Iwandy

Gadis cantik yang saat itu mengenakan outer abu muda dan rok cream ternyata baru baru ini mengunjungi hutan Tanjung Puting di Kalimantan Timur.

Bertualang di hutan dan menepi dari modernitas terdengar sangat menantang bagi Windy. Apalagi minim aktivitas digital karena nihil sinyal membuatnya merasa  hidup jadi diri sendiri.

Apalagi Windy merasa terpesona saat menemukan durian jatuh yang matang pohon. Buah belimbing berwarna pink, pokoknya semua makanan yang  dimakan oleh orang utan bisa juga dimakan oleh pengunjung.

Dan Windy juga berharap makin banyak turis domestik yang juga nantinya akan berkunjung ke hutan hutan Indonesia Dan mengenalkan hutan tersebut ke dunia melalui sosial media. Ini loh hutan Indonesia. Cantik banget.

Oke deh Win. insyaAllah selain Sumba dan Labuan Bajo aku bakal masukin Hutan Nasional Tanjung Puting sebagai salah satu tujuan domestik liburan keluarga kami tahun depan.

Nah gaes panjang ya percakapan bermanfaat yang sudah kami dengarkan melalui bincang santai hutan sumber pangan. Sekarang saatnya praktek memasak makanan dengan salah satu pangan dari hutan.

Cooking Class Pangan Dari Hutan Bersama Chef William Ghozali

Yang Paling aku nanti-nantikan dari undangan blogger gathering ini adalah cooking class membuat menu dari hasil hutan. Jadilah ekspektasiku itu membumbung tinggi mengira akan memasak menggunakan sagu, membuat kapurung atau papeda misalnya.

Tapi ternyata membuat pasta. But it’s okey. Membuat pasta yang enak juga jadi tantangan karena memang perlu komposisi yang tepat.  Satu kelompok berisi 6 orang. Dan masing masing bekerja sama untuk menciptakan Makanan yang lezat.

Chef William Ghozali akan mencontohkan didepan, kami akan Mengikuti dari belakang. Karena keterbatasan ruang dapur. Maka tiap kelompok dibagi menjadi 2 bagian. Ada petugas memasak, dan petugas memotong.

Sebenarnya aku pingin jadi petugas memasak tapi finalis  yang lain sudah mengajukan dirinya. Jadilah aku mengalah dan mengikuti acha serta alifia bertugas menjadi petugas pemotong sayuran.

Memotong bahan juga seru kok
Memotong bahan juga seru kok

Bahan yang digunakan chef Wilgoz sangat simple dan mudah ditemukan dimanapun. Yakni fettuccine, dan jamur.

Untuk membuat fettuccine mushrooms Rago, cukup menggunakan daun bawang, daun kucai dan bawang putih sebagai bumbu aromatik. Membuatnya pun mudah dan ternyata rasanya Lezat.

Bahan bahan yang digunakan
Bahan bahan yang digunakan

Dalam sebuah proses memasak memang dibutuhkan kerjasama dan trust, namun petugas memasak juga harus mendengar masukan dari orang lain.

Alhasil masakan kami tetap enak, namun jadi berubah tema, harusnya creamy ini jadinya kayak Aglio Olio. Buktinya chefnya aja sampe kaget gitu saat mencicipi masakan kelompok kami

IMG-20200229-WA0027

Namun yang pasti banyak sekali insight yang kudapat dari cooking class hari itu. Memotong bahan harus seragam agar masaknya merata. Merebus pasta tidak harus diberi garam. Yang penting rajin diaduk. Kalau diberi garam tapi tidak diaduk ya percuma juga, karena nanti akan saling menempel satu sama lain.

Walau masakan kami tidak seenak masakan chefnya. Aku tetap berusaha menghabiskan pasta yang dimasak. Jadi pas makan siang, aku tinggal menambahkan lauk saja di pasta yang kumasak. Salah satu menghargai jerih payah petani adalah dengan tidak membuang buang makanan.

Hasil masakan
Hasil masakan

Harapanku kedepannya nanti Ada cooking class lagi dengan menu benar benar berbahan hasil hutan/pertanian Indonesia. Misal kwetiaw, bihun, sohun. Jadi bukan cuma noodles atau pasta yang memang bahannya adalah dari gandum. Karena Indonesia nggak menanam gandum.

Selain mendapat tepung gluten free, rempah kunyit putih dan kopi dari hadiah menjawab kuis. Aku pun berkesempatan membeli produk berbasis ekologis dan salah satunya sudah kumasak. Kalian bisa melihatnya di video singkat di bawah ini.

Senang bisa hadir di acara blogger gathering forest cuisine. Semoga nanti ada lanjutannya dan aku bisa ikutan lagi. Baiklah teman teman sampai disini cerita keseruanku mengikuti acara full faedah seperti ini semoga dapat diambil manfaatnya ya.

Ini dia pantun untuk kalian semoga suka.

Jalan jalan ke punti kayu

Banyak kera rebutan buah ceri

Hutan Indonesia memang Nomor satu

Harus di jaga agar Lestari.

Salam Lestari. Sampai jumpa lagi

 

10 Comments

  1. Selamat ya say bisa ikutan gabung di acara ini, keren banget deh acaranya menginspirasi..

  2. Pas banget ya mba fikaa kan jago masak ada diacara ini jadi bsa tambah pengetahuan ilmu memasaknya bsa tambah keren lagi deh

  3. Indonesia kaya rempah dari hasil hutan ya maka banyak turis luar yang ketagihan. Harus dijaga kuliner khas Indonesia

  4. Pasti menjadi pengalaman seru yang tidak akan terlupakan ya Mba Fika, keren banget isi artikelnya ini… Super informatif

  5. sukses ya bunda fika…

  6. Aku tuh suka deg deg-an kalo denger berita tentang hutan yang terbakar. Karena selain menimbulkan polusi, takutnya akan menyebabkan bencana alam lainnya.
    Ya Allah semoga tidak ada bencana2 lagi yah. Padahal hasil hutan itu sangat banyak manfaatnya untuk perkembangan ekonomi masyarakat Indonesia yah.

  7. Semoga hutan d negara ini terus subur yah bun.. biar gak ada bencana alam yg d karenakan penebangan pohon gak jelas

  8. Banyak banget ya yang dihasilkan hutan yang belum kita ketahui, moga kita dapat melestarikan hutan untuk anak cucu kita kelak ya mba…

Leave a Reply to Dedew Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *