Resep Jadul Hasil Pangan Dari Hutan, Tak Sekedar Enak Tapi Juga Bergizi

“Nek, zaman dulu tuh di Palembang nih ado hutan dak” tanyaku pada Nenek dari sebelah Ibu saat video call ke Beliau melalui ponsel adekku.

” Kalu Nenek kecik dulu yo masih hutan, tapi dak lamo tuh jadi rame jugo, lupo lupo inget ” jawab Nenek yang memang sudah berusia 94 tahun.

Nenek Kelet Kami, semoga sehat selalu nek
Nenek Kelet Kami, semoga sehat selalu nek

Nenekku Halimah namanya. Walau sudah hampir menyentuh usia satu Abad beliau masih sehat wal afiat. Tidak kolesterol, tidak diabetes dan tidak hipertensi. Matanya pun masih awas dan tak ada katarak. Satu satunya permasalahan adalah tulang beliau sudah mulai tak sekuat dulu. Beliau pernah jatuh di kamar mandi setahun yang lalu. Tulang rapuhnya pun retak dan sekarang tak leluasa untuk berjalan hilir mudik seperti dulu kala.

Padahal dulu waktu beliau masih berumur 80 tahun. Nenek masih sanggup membuat aneka kue tradisional yang biasanya memang banyak dipesan handai taulan menjelang hari raya.

Nenek yang  sehari hari kami panggil Nenek Kelet ( dalam bahasa Palembang artinya adalah kurus) adalah seorang Janda yang ketika muda harus menghidupi 6 anaknya dengan cara berjualan makanan.

Dari beliaulah Ibuku yang juga ternyata bernasib sama, (menjadi janda karena ditinggal mati bapakku) menghidupi kami juga dengan berjualan kue dan penganan khas Palembang.

Maka dengan bangga aku katakan bahwa kedua orang perempuan yang aku sayangi ini semuanya pandai membuat makanan enak.

Kenangan Resep Jadul ala Nenek

Sebenarnya Almarhumah Nenek Endotku dari sebelah bapak juga jago memasak tapi kali ini aku akan cerita kepiawaian mengolah makanan yang dilakukan oleh Halimah Nenekku.

Singkat cerita aku terkenang penganan yang dibuat nenek kelet saat kami menginap di rumah beliau. Karena keterbatasan ekonomi memang menu makanan dirumah nenek Kelet itu selalu sederhana. Tidak mewah seperti yang sering kami temukan di rumah nenek kami satu lagi Nenek Endot. ( Bahasa Palembang artinya gendut).

Contoh saat dirumah nenek Endot kami biasa menemukan lauk ikan, udang, daging maupun ayam di meja makan.

Tapi tidak dengan meja makan nenek kelet. Lauk paling mewah biasanya adalah ikan sungai dan telur. Itupun tidak bisa masing masing dapat satu utuh. Biasanya harus dibagi bagi.

Namun Nenekku ini amat pandai membuat versi kw dari makanan. Tetapi rasanya itu selalu tetap enak.

Banyak bahan yang digunakan nenek. Tapi yang paling sering adalah singkong atau ubi kayu. Martabak isi tumisan ubi kayu buatan Nenek Kelet rasanya tak kalah dengan martabak kentang kornet buatan Nenek Endot.

Singkong Makin hits
Singkong Makin hits

Yak ubi kayu kerap dijadikan bahan KW super pengganti kentang. Jadi tak heran kalau di isian martabak, sup sayur, perkedel, kroket yang harusnya berbahan kentang, disubsitusi dengan ubi kayu/singkong.

” Ubi kayu dulu banyak di hutan. Namonyo bae kan ubinyo kayu” jelas Nenekku waktu kubertanya apa benar ini pangan hasil hutan.

“Oi yukcha, sebelum ado kebon dan ladang pertanian, segalo galo di bumi nih dimulai dari hutan. Jadi tanaman macem ubi kayu nih cengkihlah umbi umbian yang jugo muncul dari hutan pertamo kali”  Adek bungsuku ikut memberikan pendapatnya.

Hutan Itu Harusnya jadi Sumber Makanan

Kupikir-pikir betul juga ya. Perluasan lahan pertanian, perkebunan awalnya kan dari membuka lahan di hutan.

Kasus pembakaran hutan yang kerap kali terjadi juga disebabkan kepentingan kepentingan khusus terkait perluasan Kebun komersial.

Aku lantas teringat saat bekerja di sebuah Perusahaan philanthropy yang saat itu mengantarkan bantuan bahan bangunan dan perlengkapan untuk sebuah sekolah di daerah perkebunan sawit.

Kala itu kami berkesempatan mengunjungi sebuah desa yang hampir seluruh warganya adalah buruh perkebunan sawit. Padahal dulunya warga disitu adalah petani yang mengolah lahan di sekitar hutan dekat tempat tinggal mereka.

Salah satunya seorang ibu paruh baya yang dulunya adalah istri petani yang mengolah lahan di sekitar hutan tempat mereka tinggal.

Banyak permasalahan akibat perluasan sawit yang tak sesuai aturan.
Banyak permasalahan akibat perluasan sawit yang tak sesuai aturan.

Nah sayangnya lahan di hutan tersebut sudah banyak berubah menjadi lahan kelapa sawit. Yang kabarnya dimiliki oleh seorang pengusaha asal Palembang.

Waktu itu aku tidak terlalu paham kenapa kelapa sawit ini lantas jadi permasalahan bagi warga sekitarnya. Khususnya bagi para warga yang berprofesi sebagai petani.

Singkat cerita, aku sekedar mengantarkan bantuan dan ya sudah selesailah tugasku.

Kisruh Sawit
Kisruh Sawit

Tapi beberapa hari lalu aku mulai googling mengenai permasalahan kelapa sawit di daerah tersebut. Dan hasilnya mencengangkan. Banyak sekali permasalahan pelik yang melibatkan lahan hutan, tanah adat dan sebagainya berkaitan dengan kisruh kelapa sawit.

Ow ow ow. Banyak banget ya, beberapa dapat dibaca di screenshot yang aku post disini. Huft semoga permasalahan tersebut dapat segera diselesaikan dengan baik. Karena aku yakin tiap komoditi itu punya banyak manfaat, yang jadi permasalahan adalah bila tidak dikelola dengan baik dan penuh perhitungan. Sesuatu yang berlebihan pasti menimbulkan dampak negatif. Bukan begitu?

Dampak negatif
Dampak negatif

Nah dari cerita Ibu petani diatas, dulu untuk makan sehari hari mereka cukup mengandalkan hasil tanaman yang mereka tanam di lahan sekitar hutan. Ubi kayu, umbi umbian, aneka macam sayur, seperti pakis, daun katuk, jamur jamuran. Yang cukup mudah didapat. Sekarang berganti dengan sesuatu yang harus dibeli dengan uang karena pekerjaan suami suami mereka pun sudah berubah menjadi buruh sawit. Wah sayang banget ya, fungsi hutan sebagai sumber Makanan jadi menghilang.

Aneka umbi umbian yang awalnya berasal dari hutan
Aneka umbi umbian yang awalnya berasal dari hutan

Berdasarkan ensiklopedia Junior punya keponakanku yang bercerita tentang Hutan. Hutan itu banyak sekali manfaatnya. Yang paling utama sih sebagai paru paru dunia dan sumber kehidupan bagi seluruh mahkluk hidup.

Serunya di ensiklopedia tersebut anak anak diajari tentang bagaimana mempelajari hutan, diceritakan tentang aneka vegetasi hutan, bagaimana hutan terbentuk, mencari makanan di hutan, tugas seorang rimbawan. Dan masih banyak lagi.

Sayangnya itu bukan tentang hutan di Indonesia. Buku tersebut memang buku terjemahan luar. Hutan hujan tropisnya aja bercerita tentang Amazon. Jadi hutan yang diceritakan ya hutan di luar negeri.

Padahal tertarik banget dengan bahasan hutan sumber makanan, dimana disitu diceritakan banyak aneka bahan makanan baik sayur, buah, umbi umbian, jamur, ikan sungai. hewan, serangga yang dapat dikonsumsi tidak hanya para penghuni hutan tapi juga oleh manusia yang tinggal di sekitarnya. Semoga nanti WALHI Indonesia bekerjasama dengan pihak terkait bisa membuat buku sejenis khusus hutan di Indonesia sehingga anak anak dapat mengenal hutan di daerahnya sendiri sejak dini.

Salah satu dari beberapa pangan dari hutan yang kuingat adalah kulat pelawan. Waktu aku kecil Nenek Endotku seringkali membuat lempah kulat pelawan.

Kulat Pelawan Tak Sekedar Lezat tapi juga Bergizi

Lempah memang masakan khas Bangka, namun Nenek yang orang Palembang asli juga sering membuatnya. Sejenis lauk berkuah kadang bening namun lebih sering dibuat kental dengan tambahan santan. Rasanya gurih pedas, biasanya ditambahkan protein hewani seperti daging ayam ataupun ikan. Namun kulat pelawan atau jamur yang tumbuh dekat pohon pelawan sebenarnya sudah memiliki cita rasa yang enak.

Aku kecil bahkan menyebutnya dengan jamur ayam. Rasanya gurih kenyal seperti suwiran daging ayam bagian paha. Jamur ini ternyata sekarang harganya sangat mahal sekali, aku lihat di beberapa marketplace per kilogram antara 1.5 juta – 3 juta rupiah.

Ini loh harga Kulat Pelawan.
Ini loh harga Kulat Pelawan.

Dengan rasa yang super enak dan manfaat bagi kesehatan yang tinggi wajar memang kalau jamur ini dihargai sangat tinggi. Apalagi kabarnya untuk mendapatkan kulat pelawan cukup sulit. Jamur ini hanya tumbuh 2 kali pertahun, tidak seperti jamur jenis lain yang sudah banyak di budidaya seperti jamur tiram yang harganya jadi lebih murah.

Selain rasa yang enak, kulat pelawan ini terkenal bergizi. Memiliki kandungan protein yang tinggi, Kaya akan serat pangan, mengandung vitamin seperti vitamin B dan D serta sumber rasa umami, alias gurih alami.

Memang tiap jamur memiliki rasa gurih alami sebagai ciri khas mereka. Bahkan di sebuah event cooking class aku pernah melihat seorang Chef  terkenal menambahkan kaldu jamur yang paling Mahal di dunia sebagai penambah citarasa masakannya. (Sayangnya aku tak tahu jenis jamurnya)

Wuih jadi sudah terbayang kan, kalau menu Lempah/Gulai Kulat Pelawan ini pastilah sangat sedap.

Sayangnya belum banyak yang tahu jenis masakan ini, buktinya di situs memasak baru 13 orang yang mencoba membuatnya. Awalnya aku ingin memasak kulat ini, namun hingga tulisan ini selesai. Kulat yang kupesan secara online belum juga sampai.

Masih sedikit yang memasak menu ini
Masih sedikit yang memasak menu ini

Tapi tenang gaes. Aku masih punya banyak olahan pangan dari hutan yang sering juga dimasak oleh Nenekku yang satu lagi. Yakni Nenek Kelet.

Masih ingat kan cerita di atas. Bagaimana nenek ahli membuat menu menu enak, murah meriah dengan Singkong (Biasa di Palembang lebih dikenal dengan ubi kayu).

Nenekku bahkan bercerita dulu waktu jaman penjajahan. Nenek kecil kenyang banget makan yang namanya Ubi Kayu ini. Jangan mikir beras dulu deh. Nggak semua orang di zaman dulu beruntung bisa makan nasi putih dengan ayam goreng.

Mungkin Nenek Endotku salah satu yang beruntung itu. Karena kakek buyutku dulu bekerja sebagai Wedana.

Nenek keletku yang hanya seorang anak nelayan yang mencari ikan di sungai Musi menghabiskan masa kecilnya dengan mengkonsumsi olahan singkong dan ikan.

Singkongnya bisa direbus digoreng, atau dibakar. Singkong yang dibakar di dalam tanah bersama ikan Asin lalu ditutup kayu bakar diatasnya, memiliki aroma dan rasa yang unik.

Setelah nenek menikah dan memiliki anak. Singkong diolah menjadi lebih baik lagi. Tapi ya itu sebagai substitusi bahan kentang yang memang lebih mahal daripada singkong.

Ibuku bilang dulu kalau makan sayur sup itu isinya singkong. Nenek juga sering membuat pindang ikan gabus dengan singkong.

Pindang Iwak Delek Singkong
Pindang Iwak Delek Singkong

Pempek pun dulu dibuat dari campuran ikan gabus dan tepung singkong. Dulu belum ada tepung tapioka pabrikan. Orang orang membuat sendiri tepung singkongnya.

Aku ingat sekali gilingan batu besar yang biasa dipakai untuk menggiling beras, ketan, maupun irisan singkong kering yang dibuat menjadi tepung.

Tapi pada beberapa masakan, singkong ini cukup diparut saja. Lalu dicampur dengan bahan lainnya.

Aku akan membuat beberapa menu yang dulu sering dibuat nenek untuk kami. Diantaranya adalah pindang gabus singkong, dan Sate iwak singkong

Ikan gabus atau di Palembang disebut iwak delek
Ikan gabus atau di Palembang disebut iwak delek

Bukan hanya singkong yang menjadi salah satu pangan dari hutan. Ikan gabus dulu juga banyak ditemukan disungai sungai air dangkal di dalam hutan loh.

Ini alasan Kenapa aku memilih menu ikan delek/gabus dan singkong untuk aku masak hari ini.

Konon, singkong sudah dikenal dan dikonsumsi oleh masyarakat di zaman kerajaan Singasari, Majapahit, Demak, Pajang dll. Ini sekaligus bukti bahwa makanan pokok Indonesia nggak cuma beras. Kita bisa kok makan yang lain selain beras.

Singkong dikenal sebagai tanaman perdu yang dapat tumbuh subur sepanjang tahun. Tanaman ini awalnya berasal dari Amerika Selatan dan Amerika Tengah yakni di Brazil dan Meksiko.

Singkong terkenal sebagai tanaman yang bermanfaat seluruh bagiannya. Umbinya Kaya hidrat arang, daunnya bisa dimasak sebagai sayuran. Batangnya jadi kayu bakar.

Sebagai bahan makananpun manfaatnya cukup banyak dan beragam. Selain bisa dijadikan pangan fermentasi seperti tapai, dibuat tepung tapioka, gaplek dan yang terakhir adalah tepung singkong.

Singkong memang mengandung cukup tinggi kalori dan sumber energi yang baik. Mengandung serat, protein, bebas gluten, sumber vit B, magnesium dan tembaga.  Serta tinggi kalium yang bermanfaat membantu mengatur detak jantung dan tekanan darah.

Memang ada perhatian khusus terkait keamanan mengkonsumsi singkong. Singkong tertentu mengandung senyawa beracun alami yang bernama glikosida  sianogen linamarin, namun mengupas kulitnya, mengeringkan dengan sinar matahari. Proses perendaman dan perebusan akan menguapkan senyawa berbahaya ini. Sehingga singkong aman dikonsumsi.

Kamu bisa baca informasi gizinya digambar dibawah ini.

Kandungan gizi singkong
Kandungan gizi singkong

Bagaimana dengan Ikan Gabus? Ikan yang berasal dari perairan tawar seperti rawa rawa, sungai dan danau. Ikan ini rasanya sangat khas, gurih, berdaging tebal sehingga cocok diolah jadi aneka makanan lezat.

Di Kota kelahiranku  ikan gabus merupakan ikan favorit yang digunakan sebagai bahan membuat aneka penganan khas Palembang. Terutama sebagai bahan membuat pempek.

Ikan gabus terkenal tinggi protein, dari 100 gram ikan gabus kita dapat memperoleh 25,2 gram protein, lebih tinggi dibanding ayam (18,2 gram), daging sapi (18,8 gram) maupun telur (12,8 gram). Pun 25,5 persen lebih tinggi dibanding kadar protein ikan bandeng dan kakap (20 persen), ikan mas (16 persen), ataupun ikan sarden (21,1persen).

Bahkan Albumin yang banyak terkandung dalam ikan gabus menjadi salah satu protein penting bagi tubuh Kita. Albumin mempercepat proses penyembuhan Luka. Dulu ibuku yang mengidap penyakit gagal ginjal rutin mengkonsumsi ikan gabus karena dipercaya kandungan albumin dalam ikan akan mempercepat penyembuhan.

Nah menu pindang Ikan Gabus Singkong yang kubuat tentu saja sangat cocok dikonsumsi oleh Kita. Karena memberikan manfaat yang baik bagi kesehatan tubuh.

Biasanya Nenek memasak kepala ikan dan sisa tulang belulangnya bersama potongan singkong. Daging ikan digiling menjadi bahan baku pempek. Jadi tidak Ada bagian yang terbuang kecuali kotoran dan isi perutnya.

Cita rasa pindang ini rasanya gurih dari kaldu ikan gabus, asam dan pedas. Cocok dimakan sebagai appetizer ataupun dijadikan lauk. Rasanya menggugah selera dan dapat memantik nafsu makan.

Aku sudah membuatkan video memasak yang bisa ditonton disini ya.

Selain dibuat pindang, singkong biasanya dicampur dengan aneka ikan lainnya untuk membuat penganan lain. Contohnya Satai ikan. Dari satu bahan ini saja, dapat dibuat 3 jenis makanan berbeda. Bahannya cuma ikan (bebas apa saja, aku pilih tenggiri) singkong parut, kelapa parut, telur, bumbu ( bawang putih giling, gula, garam dan Lada).

Cara membuatnya pun sangat mudah. Tinggal menghaluskan semua bahan lalu dicampur menjadi satu. Kemudian dikukus. Setelah dikukus, bisa disajikan dengan cara dibakar, kukus, maupun digoreng.

Satai ikan mix Singkong Kukus
Satai ikan mix Singkong Kukus

Citarasa gurih ikan, bercampur dengan lembutnya singkong cocok sekali dijadikan sebagai makanan untuk keluarga.

Patut Kita Sadari sekarang Hutan Semakin Berkurang

Kalau singkong masih mudah ditemukan dan harganya pun murah meriah. Ikan Gabus malah sebaliknya sekarang ikan Gabus sudah cukup sulit dicari. Ikan yang tersedia di Palembang banyak dipasok dari kabupaten lain di Sumsel.

Dari berita yang kubaca ikan gabus sulit didapat karena habitatnya hilang atau rusak. Menurut data WALHI Sumsel, dari 200 ribu hektar rawa sekarang hanya tersisa 5000 hektar saja.

Hilangnya habitat ini disebabkan beralih fungsi menjadi perkebunan sawit, HTI, maupun pembangunan infrastructur yang masif.

Duh kalau misalkan penyebab hilangnya habitat ikan gabus ini tidak diatur dan ditanggulangi. Bisa jadi ikan ini pun akan bernasib sama seperti ikan belida yang sekarang memang sudah jarang dan langka.

Karena itu harapanku untuk para pemangku kebijakan juga pemilik usaha perkebunan terkait. Hendaknya turut memikirkan dan mencari solusi yang bijak agar tidak hanya komoditi komersil saja yang bisa maju dan berkembang.

Hutan sebagai rumah bagi banyak makhluk hidup tetap terjaga kelestariannya. Sehingga memberikan manfaat optimal untuk keberlangsungan semua makhluk di bumi.

Baiklah sampai disini dulu ceritaku tentang resep jadul Nenekku yang terbukti karena pola makan sehat. Nenek berumur panjang dan masih bisa produktif. Semoga dapat diambil manfaatnya dan ada kesalahan dalam penulisan mohon dimaafkan. Terima kasih

“Bila pohon terakhir telah ditebang, tetes air terakhir telah tercemar, dan ikan terakhir telah ditangkap. Barulah manusia sadar bahwa uang tidak bisa dimakan”  Quote By Eric Weiner.

24 Comments

  1. Isian martabak berupa singkong. Aku baru tahu . Tapi kalo emang bisa ngolahnya, singkong tuh enak-saja dimakan, nggak hambar.

  2. Kakak masih ingat kan kak kalau Indonesia negara Agraris, gimana dengan banyak pembangunan gedung di sana-sini. Hutan kita kemana kak? Sawah ladang kak, hiks

  3. Pantes mbak Fika jago masak ternyata emang turunan hahah maksudnya sejak kecil udah sering liat keluarganya masak jd terbiasa masak dan bikin makanan enak 😀
    Wah jamur yang bisa dimakan ya? Kalau diolah dengan baik para vegetarian jg jadiin lauk hehe. Penasaran rasanya 😀

  4. Keinget dulu di kebun pinggir rumah ada tanaman singkong, tapi karena ada org yg usil tiap malam diambil buahnya, jadi deh nggak nanam singkong lagi. padahal dulu juga sering bikin olahan makanan dari singkong,
    Btw aku juga masaknya ngandelin reseo di cookpad mbak hehee

  5. Di sini, ikan gabus sangat sulit dicari Mbak. Padahal masyarakat hanya makan saat ada masalah tertentu misalnya setelah operasi caesar… Jadi bukan bahan makanan lazim.

    Btw, saya suka banget singkong, dan enak kalau dimasak beningan. Misalnya dibarengkan dengan sayur bayam. Endes banget. Resep orang jadoel bianget, itu.

  6. Singkong atau ubi kayu memang bisa dibuat apa saja ya, Mbak Fika. Soto Gombong perkedelnya bukan dari kentang, tapi singkong.
    Saya juga suka kroket singkong. Itu kalau di Makassar disantap pakau saus cair. Makanya hutan memang perlu dijaga, agar sumber pangan dari hutan akan terus ada.

  7. Singkong ini emang enak diapain juga ya. Aku suka tuh, Singkong dicampur pindang Ikan. Nutrisinya jadi tercukupi, ada karbo dan protein, jg herbal2 dr bumbu-bumbu. Nggak perlu makan nasi lagi.

  8. Penasaran sama rasa ikan kalo dimasak bareng singkong mbak. Tp sayange aku ndak suka ikan. Kalo singkong nya aj baru doyan.. hehe

  9. huwooooo beberapa jenis panganan itu baru aku dengar mba Fika, terutama kulat Palawan itu yang harganya wow banget ya! jadi bayangin kalo dimasak bumbu gulai gitu, duh enak kayaknya, soalnya blom pernah makan itu

  10. Saya baru tahu nih kalau singkong juga bisa jadi campuran sayur bersama ikan gabus, jadi pengen coba deh karena kalau di jawa biasanya buat camilan bukan campur masakan

  11. Singkong biasanya cuma digoreng atau direbus aja nih. Kok baru tahu bisa dibikin makanan savory semacam itu. Mupeng pengin makan. :9

  12. Singkong makanan sarat gizi juga ternyata ya dan bisa jadi pengganti karbohidrat yang dari nasi. Btw, itu resep jadul nenek nggak dikumpulin kah, Kak, resep-resep lama itu penting lho didokumentasikan. Karena aku udah pernah juga dokumentasiin resep-resep nenekku dan rasanya sayang banget, mana lagi kue-kue jadul jarang ada sekarang

  13. Satai Ikan mixed Singkong Kukus beneran bikin saya penasaran banget. Bagaimana ya rasanya? Unik sekali masakan khas dari Nenenk kelet mu ini.

  14. titip salam buat Mbah Halimah ya kak

    btw aku baru tau loh kalo ternyata singkong bisa dimix dengan ikan. lalu dikukus. kalau selanjutnya dilumuri telur dan tepung roti, udah bisa jadi nugget loh

  15. Apa sih yang nggak bisa dimanfaatkan dari hutan di nusantara? Kayaknya semua ada. Mulai dari tambang hingga bahan makanan ada. Bersyukur banget hidup di Indonesia ya Kak. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya.

  16. Sukaa banget sama ikan gabus. Meski sudah rada jarang. Dan terbilang mahal. Tapi, bisa didapet di beberapa rumah makan khas. Singkongnya seger seger banget yaa jadi kepengen bikin singkong rebus

  17. singkong ini memang bisa dibikin macam-macam yaa. mulai dari kue sampai kripik gitu. harganya murah meriah juga

  18. Singkong itu banyak banget bisa dibuat makanan ya. Dari yang dikukus, digoreng, bahkan bisa buat sayur lodeh juga. Rasanya enak dan harganya pun terjangkau.

    Orang jaman dulu itu memang badannya sehat-sehat banget. Meski sudah mendekati 1 abad. Kebanyakan dari mereka bebas dari kolestrol, hipertensi, diabetes dan penyakit lainnya. Mungkin cara makan mereka yang selalu baik, sehat dan alami kali ya.

  19. Aku baru tau isian martabak bisa dari singkong. Mamaciw infonya ya bun fika.

  20. Kalau di aku singkong sih biasanya cuma digoreng atau direbus, ternyata banyak olahan singkong yang bisa dibuat ya. Masalah hutan Indonesia, memang kita harus ambil bagian dalam melestarikannya, agar anak cucu kita bisa memakan masakan khas yang tersedia dari hutan


  21. Sayang sekali banyak ada orang Indonesia yang kurang suka makan singkong. Padahal makanan ini rasanya lezat dan juga bagus untuk kesehatan tubuh

  22. Olahan hutan emang jos ya mba Fika
    bikin kita bertumbuh dengan sehat dan buger
    aku jadi pengne makan kuah ikannya itu lho

  23. terlihat seger ya menu ikan pindang dicampur singkong seperti itu
    mamaku pernah masak dicampur singkong juga, awalnya aneh “ini kok dicampur sih”, tapi dirasa rasa oke juga ya, juga nggak mengurangi rasa asli dari masakan itu sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *