Yuk Dukung Teman Disabilitas Mendapat Hak yang sama dalam Inklusi SDM Unggul

Assalamualaikum Good People… Hai hai hai, good people kamu tahu nggak Tanggal 3 Desember diperingati sebagai hari apa ?

Yes benar sekali. Tanggal 3 Desember biasanya diperingati sebagai hari disabilitas international atau Hari disabilitas dunia.

Nah teman teman juga pasti tahu kan apa sih disabilitas itu?

Disabilitas adalah istilah pengganti sebutan penyandang cacat. Ya kata disabilitas memiliki arti lebih halus dan tidak berkonotasi negatif. Apalagi Peringatan Hari Disabilitas Internasional 2019 mengusung tema “Indonesia Inklusi, Disabiltas Unggul”. Tema itu menggambarkan semangat dalam mewujudkan pemenuhan hak penyandang disabilitas untuk hidup setara dan berpartisipasi aktif sebagai agen pembangunan.

Seperti yang Kita ketahui masih banyak teman teman disabilitas disekitar Kita yang mengalami kesulitan untuk dapat hidup normal ditengah masyarakat. Juga keterbatasan saat mengakses fasilitas umum salah satunya transportasi publik, fasilitas kesehatan dll.

Nah untuk hidup normal saja mereka kesulitan. Apalagi mengembangkan potensi dan bakat yang mereka miliki.

Kesulitan kesulitan tersebut biasanya terjadi karena faktor lingkungan yang belum mencoba mengerti dan memahami kebutuhan mereka. Belum lagi perlakuan dan stigma negatif dari masyarakat. Membuat teman teman disabilitas merasa termarjinalkan dan tidak dapat bersosialisasi secara leluasa.

Peringatan hari disabilitas Nasional ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang disabilitas, menghilangkan stigma terhadap penyandang disabilitas, memberikan dukungan untuk meningkatkan kemampuan serta kesejahteraan difabel. Makanya beberapa hari yang lalu Aku bersama teman teman dari Blogger Crony mengikuti rangkaian acara Hari peringatan Disabilitas Nasional di Gedung Prof Dr. Sujudi Kementrian Kesehatan Republik Indonesia di bilangan Kuningan Jakarta.

Acara dimulai pukul 10.00 Pagi, tapi kami sudah datang lebih awal sejak pukul 07.45 WIB. Karena datang kepagian, Saya dan teman teman jadi sempat berkenalan dan berbincang bincang dengan salah satu Bapak penyandang disabilitas fisik.

Sebelum aku menceritakan kisah bapak tersebut. Aku jelaskan dulu ya jenis jenis disabilitas.

Disabilitas itu terbagi dari beberapa klasifikasi. Yang Pertama disabilitas fisik ini contohnya yang tidak bisa berjalan, atau hilangnya salah satu kaki/tangan. Disabilitas mental contohnya para pengidap schizophrenia dll.
Disabilitaa sensory seperti tuna rungu, tuna netra dll, yang ke empat disabilitaz intelektual contoh Anak dengan kebutuhan khusus.

Kami berkenalan dengan Pak Rato Simo yang sejak usia 5 tahun harus menerima kenyataan bahwa ia tidak akan pernah bisa berjalan. Dikarenakan penyakit polio yang telah menyerangnya sejak usia 2 tahun.

Bila ingin mengingat masa masa pahit saat sekolah di SR, dibully, dihina, diejek tentu saja Pak Rato Simo merasa sedih. Beliau tampak menahan air Mata saat menceritakan ke kami. Alhamdulillah sejak bertama usia dan sekarang sudah menginjak usia hampir 70 tahun. Pak Simo ikut memperjuangkan hak Hak teman teman disabilitas melalui organisasi organisasi yang beliau ikuti.

Secara fisik mungkin beliau terbatas. Tapi tidak dengan semangat dan pemikiran.

Lain lagi dengan Ibu Junita salah satu disabilitas tuna rungu. Karena beliau tidak bisa mendengar dan berbicara. Beliau kesulitasn sekali setiap kali harus memeriksakan kesehatan ke puskesmas/rumah Sakit

Karena adanya perbedaan cara berkomunikasi antara disabilitas tuna rungu dengan perawat dan dokter di fasilitas kesehatan.

Bayangkan bagaimana mereka menyampaikan keluhan penyakit. Atau mendengar nasehat dokter? Karena adanya perbedaan Cara berkomunikasi.

Bahkan sebelum dimulai pun sudah mengalami permasalahan saat mengantri no panggilan. Belum lagi bila ingin mendengar penjelasan dokter dan apoteker. Semua jadi lebih sulit

Karena itu Kemenkes RI berinisiatif membuat sebuah modul bahasa isyarat yang berguna untuk para tenaga kesehatan agar dapat berkomunikasi dengan lebih baik kepada disabilitas tuna rungu dan tuna wicara.

Dalam Acara ini Dr. dr. Tirza Z. Tamin, SpKFR(K). Perwakilan dari Pedostri juga menjelaskan hak apa saja yang dimiliki oleh teman teman disabilitas.

Salah satunya terkait tentang gedung Dan bangunan berdasarkan peraturan Mentri PUPR no 14 tahun 70 bahwa setiap pengguna & pengunjung bangunan
gedung memiliki hak yg sama untuk dapat mengakses
& menjalankan aktivitasnya dlm bangunan gedung
& lingkungan secara aman, nyaman, mudah, dan
mandiri

bahwa setiap bangunan gedung umum harus
menyediakan kelengkapan prasarana dan sarana
pemanfaatan bangunan gedung, untuk memberikan
kemudahan bagi pengguna dan pengunjung bangunan
gedung dalam beraktivitas di dalam bangunan gedung.

Tentunya semua stake holder harus saling membantu. Agar para teman disabilitas dapat merasakan dan menikmati fasilitas dan layanan umum dengan nyaman.

Diharapkan para tenaga kesehatan yang mengerti penggunaan bahasa isyarat dapat membantu menyelesaikan persoalan pasien tuna rungu dan tuna wicara.

Tidak banyak yang Aku bisa ceritakan kali ini mengingat materinya cukup teknis. Namun semangat untuk memahami dan mensupport teman disabilitas harus Kita galakkan.  Karena mereka merupakan bagian dari Kita. Sebagai yang memiliki kemudahan akses dan beraktivitas. Kita harus senantiasa membantu para teman disabilitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *