Sosialisasi Isi Piringku dan Pola Asuh Anak Usia Paud

Hai apa kabarnya semua? Aku punya cerita menarik seputar kegiatanku mengikuti acara isi piringku di kantor walikota Jakarta Utara beberapa hari lalu.

Materinya tentu saja menarik. Tentang sosialisasi isi piringku dan pola asuh Anak usia paud. Sebelum mulai menceritakan kegiatan kemarin itu. Izinkan aku cerita dulu tentang keponakanku hafidz yang kebetulan sekarang duduk di TK.

IMG_20191201_234953_901

Kakak Hafidz saat ini tidak mudah dipengaruhi seperti dulu ketika dia masih belum sekolah. Kalau dulu dia cenderung mau mendengar dan menuruti apa saja yang Amma (Saya) ceritakan. Tapi sekarang dia selalu menelisik terlebih dahulu informasi yang Amma berikan dengan informasi yang Ustadzah (sebutan guru di TKITnya).

Contoh saat Amma Fika tanya kenapa kok Kak Hafidz tidak nonton televisi? Saat itu dia asyik mewarnai gambar ( dan kuakui gambarnya cukup kreatif dan rapi). ” Kata Ustadzah sebaiknya tidak banyak menonton tv Amma, filmnya nggak untuk anak anak” jawab Hafidz (Tentu saja dgn Gaya Khas anak kecil).

“Loh  tapi Kan ada kartun untuk Anak Anak juga?” Sanggahku. Aku pengen tahu apa jawaban Hafidz. ” Tapi isinya untuk orang besar Amma, kayak Amma”. Padahal adikku alias ibunya Hafidz tidak pernah melarang hafidz nonton tv. Ya sesekali boleh lah yang Penting didampingi. Tapi sejak ustadzah bilang sebaiknya tidak nonton tv.

Kakak Hafidz memang jadi lebih suka mewarnai, bermain Lego, main mobilan, baca buku cerita, main dengan Anak anak lain dan aktivitas lainnya.

Benang merahnya adalah, bagi anak anak usia 3-5 tahun selain orang tuanya. Guru di sekolah cukup mempengaruhi pola pikir anak. Karena Anak merasa selain orang tua mereka. Guru disekolah adalah sosok yang benar Dan wajib dipatuhi.

Alhamdulillah para guru PAUD dan taman kanak kanak ini bisa menjadi Suri tauladan dan pengaruh yang baik bagi perkembangan jiwa dan pola pikir anak.

Lantas apa hubungannya cerita Hafidz dengan kegiatanku di kantor Walikota Jakarta Utara beberapa hari lalu? Ini hubungannya.

Paud Penting Untuk Tanamkan Pola Makan Gizi Seimbang Sejak Dini.

Seperti biasa Danone perusahaan dengan visi One Planet One Health yang peduli pada nutrisi dan lingkungan ini berkolaborasi dengan berbagai lembaga lainnya mengadakan seminar/ workshop/bincang gizi. Kali ini bekerjasama dengan Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI dan Pemerintah Kota Jakarta Utara.

Ibu Wailayati Ningsih Perwakilan Danone
Ibu Wailayati Ningsih Perwakilan Danone

Perwakilan Danone. Wailayati Ningsih Senior Health Dan Nutrition Manager Danone Indonesia. Mengatakan ” bahwa yang dilakukan hari ini merupakan sebagian langkah kecil yang nantinya akan menjadi langkah besar untuk memberikan pemahaman ke masyarakat mengenai gizi seimbang. Program isi piringku sudah mulai diinisiasi Danone sejak 2017 dengan dibuatkan modul bekerja sama dengan IPB”

Dalam kata sambutannya saat membuka Acara. Bapak Wawako Jakarta Utara Ali Maulana Hakim mengatakan, ” Danone telah sering bekerja sama di Jakarta Utara terkait masalah air bersih. Dan kini dalam rangka pengentasan stunting. Walau persentasenya kecil tetap saja perlu kerjasama antara stake holder seperti Pemerintah, orang tua, guru dll memutuskan Mata rantai masalah stunting ini. Peran guru PAUD dapat memberikan nilai tambah dalam memberikan pemahaman kepada Anak”

Bapak Wakil Walikota Jakarta Utara
Bapak Wakil Walikota Jakarta Utara

Pendalaman materi mengenai isi piringku untuk Guru PAUD

Acara saat itu dihadiri oleh Perwakilan 60 Sekolah Paud se Jakarta Utara yang masing masing mengirimkan 2 orang. Juga para penggerak PKK di wilayah masing masing.

Dr. dr. Herqutanto, MPH, MARS selaku Ketua Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI juga menyampaikan bahwa” Acara ini menjadi sangat penting, karena Kita tahu bahwa PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) berbasis pendidikan dari Kita semua. Anak Anak belajar bersosialisasi dimulai dari teman sebangku, berinteraksi dengan orang lain, seperti teman, orang tua teman, para guru. Disinilah anak anak Kita sejak usia dini mengenal konsep hidup sehat salah satunya tentang gizi dan tumbuh kembang. Sehingga peran paud menjadi sangat Penting kalau kita ingin mendapatkan generasi unggul di 20-30 tahun lagi”

Ketua Department IKK FKUI
Ketua Department IKK FKUI

Nah saat itu acara dibagi menjadi dua bagian yang Pertama adalah penyampaian materi materi terkait. Yang kedua mini Talkshow sekaligus QNA. Penasaran kan materi apa saja yang disampaikan di acara saat itu. Cus teruskan bacanya ya.

IMG_20191120_094113

Narasumber yang hadir antara lain.

1. dr Dian Kusumadewi M.Gizi Dokter Spesialis Gizi
2. Dr Hartono Gunardi, Spesialis Anak
3. Roslina Verauli, M.PSi – Praktisi Psikogi Klinis
Faza Fairuza Az Zahra (Fay) Role Model Ibu

Isi Piringku – Gizi Seimbang Untuk Tumbuh Kembang Optimal

Nutrisi gizi seimbang ada kaitannya dengan tumbuh kembang anak. Tumbuh disini pengertiannya adalah bertambahnya ukuran fisik dan struktrur tubuh sehingga dapat diukur dengan satuan berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala.

Materi Isi Piringku
Materi Isi Piringku

Sedangkan perkembangan merupakan bertambahnya fungsi kemampuan sensorik (dengar, lihat, raba, rasa, cium). Motorik (Gerak kasar, halus). Kognitif (Pengetahuan kecerdasan). Komunikasi (berbahasa) Emosi, sosial dan kemandirian.

Adapun faktor faktor yang mempengarui tumbuh kembang anak dijelaskan oleh dr. Dian. Hal ini dipengaruhi oleh dua faktor utama yang diikuti oleh faktor lainnya.

Dua faktor utama tersebut adalah genetik dan lingkungan. Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Namun yang paling mempengaruhi adalah faktor lingkungan yang terbagi dua lagi menjadi faktor pranatal dan posnatal.

Faktor Pranatal adalah Faktor lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak sebelum lahir, diantaranya gizi ibu hamil yang baik/buruk. Gizi ibu pada waktu hamil
Gizi ibu yang buruk sebelum maupun pada saat hamil, lebih sering menghasilkan bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) atau lahir mati dan jarang menyebabkan cacat bawaan.

Faktor PostNatal adalah Faktor lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak setelah lahir. Dari materi dr. Dian terdapat 4 faktor postnatal. Yaitu Biologis, Fisik, Psikososial, Keluarga.

Nutrisi dan gizi seimbang masuk ke faktor biologis. Dimana anak membutuhkan makan sebagai proses mendapatkan gizi seimbang untuk tumbuh kembangnya.

Ke empat faktor tadi saling mempengaruhi satu sama lain termasuk dalam pola diet yang salah pada masyarakat Indonesia.

Saat bayi hingga berusia 6 bulan masih terjaga nutrisinya, karena mendapat asi ekslusif. Namun permasalah mulai muncul sejak anak perlu tambahan makanan berupa makanan pendamping asi. Pola diet yang salah menyebabkan menu anak yang berlanjut sampai dia dewasa nanti mengandung tinggi kalori, tinggi lemak, namun rendah serat.

Sehingga saat anak selesai mendapat asi dan mengandalkan makan sebagai sumber nutrisi permasalahan baru datang. Anak anak yang kekurangan nutrisi bisa menjadi stunting atau perawakan pendek. Tapi bukan sekedar perawakan pendeknya saja yang mengkhawatirkan. IQ anak pada anak stunting juga tidak akan berkembang.

Satu lagi permasalahan selain stunting yakni obesitas. Dimana sekarang ini anak gemuk bukan lagi anak yang lucu. karena gemuk sendiri merupakan penyakit. Anak yang gemuk juga akan mengalami permasalahan dalam tumbuh kembangnya. karena itu salah satu solusinya adalah dengan menu gizi seimbang melalui pola makan yang sehat.

Tumpeng Gizi Seimbang dan Isi Piringku.

4 sehat 5 sempurna tidak lagi signifikan sekarang. karena 4 sehat 5 sempurna hanya memberikan panduan jenis makanan. Tapi tidak dengan takaran dan jadwal pemberian.

Tumpeng gizi seimbang sudah sangat jelas dan baik susunannya. dimulai dengan jenis zat gizi dan makanan apa saja yang harus dikonsumsi dengan jumlah terbatas sampai yang bisa dikonsumsi dengan jumlah cukup banyak.

Sedangkan isi piringku memudahkan kita mengaplikasikan kebutuhan makanan yang benar. Isi piringku dapat menjadi acuan sajian sekali makan.yakni 1/2 bagian berisi 1/3 buah dan 2/3 sayuran, 1/2 bagian berisi 1/3 lauk protein dan 2/3 karbohidrat.

Tumpeng Gizi Seimbang
Tumpeng Gizi Seimbang

Baca juga tentang Acara Danone lainnya mengenai Isi Piringku

Diharapkan para guru paud yang hadir memahami mengenai isi piringku ini sehingga dapat meneruskan ke anak anak didik mereka bagaimana seharusnya porsi makan yang tepat.

Seperti ponakanku Hafidz yang sekarang tidak lagi sulit makan sayuran saat menikmati bekal makan siang di TKITnya. Hafidz mendengar cerita dari ustadzahnya tentang kebaikan sayuran bagi tubuh. Apalagi dia memakan bekal tersebut tidak sendirian tapi bersama sama teman teman yang juga ada menu sayur di kotak bekalnya.

Guru Paud menjadi salah satu orang yang sehari hari bertemu dan berinteraksi dengan anak anak. Sehingga jelas dapat membantu orang tua memberikan pemahaman dan nilai nilai mengenai gizi seimbang melalui isi piringku.

Pola Pengasuhan Positif Untuk Anak Usia Dini

Materi yang kedua yang menurutku juga sangat menarik adalah tentang pengasuhan anak yang disampaikan oleh Ibu Roslina Verauli M. PSi Praktisi Psikologi Klinis.

Inti dari materi yang disampaikan oleh Ibu Verauli adalah bagaimana membawa pengasuhan positif yang akan mengembangkan asumsi dasar dari diri anak tersebut. Yakni pada dasarnya setiap anak adalah baik, altruistik dan ingin melakukan segala sesuatu dengan benar.

Pengasuhan positif ini dapat dilakukan dengan melakukan 3 hal. Pertama memberikan kasih sayang. Perhatian yang hangat, Peka pada emosi anak dan ikut terlibat.

Ibu Verauli
Ibu Verauli Praktisi Psikologi Klinis

Yang kedua adalah disiplin. Mengajarkan anak tidak hanya dengan ucapan saja tapi juga memberi contoh teladan. Mengacu pada perilaku yang diinginkan. Menyampaikan keinginan melalui diskusi. Dan tidak serta merta semua keinginan anak dapat dipenuhi. Sehingga anak juga dapat diarahkan melalui negoisasi.

Yang ketiga adalah komunikasi yang terbuka dan efektif. Dibagian ini saya jadi senyum senyum sendiri. karena apa yang disampaikan oleh Ibu Verauli sangat benar. Kadang ibu ibu menyelesaikan masalah dengan anak melalui repetan dan omelan. Sayangnya anak bukan malah jerah. Tapi malah makin jadi. Karena tidak menangkap apa sih sebenarnya yang ingin disampaikan oleh ortunya

Contoh saat mengajarkan anak meletakkan sepatu dirumah. Ketika anak meletakkan sepatu sembarang. Harusnya kita hanya mengingatkannya dengan kalimat penden namun fokus. seperti dengan ” Dek taruh sepatunya di rak sepatu”. Jadi tidak perlu naik pitam dulu dan merepet panjang. Selain bikin capek, ternyata anak anak belum tentu mendengar pesan yang ingin kita sampaikan.

Gizi Seimbang dan Pola Pengasuhan Efektif Untuk Generasi Emas 2045

Kedua hal tersebut bila digabung menjadi satu. Aku yakin akan membantu tumbuh kembang anak menjadi lebih optimal. Dan seperti yang disampaikan oleh Dr Hartono Gunardi Spesialis Anak. Tumbuh kembang optimal akan menjadikan anak anak siap menjadi masa depan unggulan Indonesia emas di 2030.

Nah seperti itulah cerita kegiatan sosialisasi isi piringku ke para guru Paud di Jakarta Utara. Semoga yang kusampaikan bermanfaat. Terima kasih dan sampai bertemu lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *