Diabetes The Mother Of Disease

Aku terkejut lihat hasil Hba1c yang barusan ku terima. Hasilnya tidak bagus, yes jauh diatas normal. Kaget dan tak percaya itu yang aku rasakan.

Ngomong ngomong teman teman tahu tidak APA yang dimaksud dengan tes Hba1c? Nah kalau mau tahu ikuti terus ceritaku ini ya.

Beberapa Hari yang lalu saat mengikuti Peringatan Hari Diabetes sedunia di Kantor Kemenkes RI. Aku berkesempatan mendapat tes kesehatan yakni tes Hba1c.

Hemoglobin A1c (HbA1c) digunakan untuk memantau glukosa darah pada pasien diabetes. HbA1c merupakan indikator jangka panjang kontrol glukosa darah, bisa juga digunakan untuk memonitor efek diet, olahraga, dan terapi obat terhadap gula darah pasien.

HbA1c tidak dapat digunakan untuk memantau kadar glukosa darah per hari atau tes rutin gula darah.

Pemeriksaan HbA1c
Pemeriksaan HbA1c adalah pemeriksaan darah yang penting untuk melihat seberapa baik pengobatan terhadap diabetes. Artinya pemeriksaan Hemoglobin A1C ini akan menggambarkan rata-rata gula darah selama 2 sampai 3 bulan terakhir dan digunakan bersama dengan pemeriksaan gula darah biasa untuk membuat penyesuaian dalam pengendalian diabetes melitus.

Nah normalnya hasil Hba1c adalah Bagi orang yang sehat alias tanpa diabetes, kisaran nilai HbA1c adalah antara 4% sampai 5,6%. Kadar HbA1c antara 5,7% sampai 6,4% mengindikasikan peningkatan risiko diabetes, dan kadar 6,5% atau lebih tinggi mengindikasikan diabetes.

Nilaiku itu diatas 6.5% Dan tentu saja itu bukan sesuatu yang baik. Namun aku ingat pernah membaca literasi tentang diabetes. Dan nilai Hba1c ini akan kurang signifikan bila di tes pada pasien dengan Kadar kolesterol yang tinggi dan ada penyakit hati. Dan setelah berkonsultasi dengan dokter yang selama ini menangani penyakitku. Beliau bilang insyaallah nilai Hba1c ku tinggi tapi bukan menunjukkan diabetes. Namun tetap harus melakukan pengobatan dan diet gizi seimbang. Karena penyakitku juga bukan penyakit yang lebih baik.

Gaes terus terang saja, aku takut banget terkena diabetes. Nggak mau aku tuh. Apalagi seperti yang disampaikan oleh Dr Cut Putri Arianie, Direktur P2PTM Kemenkes RI. Diabetes merupakan induk dari segala penyakit.

Penyakit degenerative satu ini bisa menyebabkan komplikasi menjadi penyakit lain seperti kerusakan organ organ lain, seperti Mata, ginjal, jantung dll

Almarhumah ibuku contohnya. Beliau adalah pasien diabetes militus 2 yang akhirnya terkena komplikasi ke Mata dan ke ginjal. Bahkan di akhir hayatnya beliau meninggal Setelah sempat menjalani perawatan cuci darah selama sebulan.Makanya aku takut banget terkena penyakit satu ini. Duh naudzubillahi min dzalik nggak mau ya Allah.

Yup Ada Dua tipe penyakit diabetes. Jadi bukan diabetes kering dan diabetes basah yang selama ini Kita ketahui ya.

Yang benar adalah diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2. Kedua type ini berbeda dalam banyak faktor. Yang pasti persamaannya adalah sama sama tidak bisa mengontrol gula darah.

Menurut Prof dr Jose RL Batubara PhD, SpA(K) dari divisi endokrinologi Anak FKUI RSCM. Diabetes yang terjadi pada Anak Anak adalah diabetes type 1 yang biasanya terjadi karena adanya autoimun. Sedangkan diabetes yang terjadi pada mulai usia remaja hingga orang dewasa adalah diabetes type 2 yakni karena adanya kesalahan dalam Gaya hidup, sehingga menyebabkan ketidak mampuan tubuh menciptakan insulin yang cukup.

Konsumsi insulin suatu keharusan bagi diabetes tipe 1, pengobatan diabetes tipe 2 lebih bervariasi.

Karena orang dengan tipe 1 tidak dapat memroduksi insulin sendiri, mereka harus melakukan injeksi insulin rutin atau memakai pompa insulin yang melekat pada tubuh mereka. Tanpa insulin, hidup mereka akan berakhir.

Diabetes tipe 2, pilihan pengobatannya lebih banyak. Kita mungkin akan diberi petunjuk untuk memonitor diet, melakukan lebih banyak latihan dan menurunkan berat badan. Tetapi kebanyakan orang dengan diabetes tipe 2 juga mengonsumsi pil yang mendorong tubuh untuk membuat lebih banyak insulin dan atau menurunkan kadar gula darah.

Jika langkah-langkah ini tidak bekerja dan penyakit semakin memburuk, kita mungkin harus beralih menggunakan suntikan insulin.

Faktor Resiko diabetes type 1 adalah bila memiliki riwayat keluarga dengan dm type 1, sedangkan diabetes tipe 2, akan lebih mudah mengalami kondisi ini jika memiliki faktor-faktor risiko, seperti:

*Kelebihan berat badan.
*Memiliki keluarga dengan riwayat diabetes tipe 2.
*Kurang aktif. Aktivitas fisik membantu mengontrol berat badan, membakar glukosa sebagai energi, dan membuat sel tubuh lebih sensitif terhadap insulin.
*Kurang aktif beraktivitas fisik menyebabkan seseorang lebih mudah terkena diabetes tipe 2.

*Usia. Risiko terjadinya diabetes tipe 2 akan meningkat seiring bertambahnya usia

*Menderita tekanan darah tinggi (hipertensi).

*Memiliki kadar kolesterol dan trigliserida abnormal. Seseorang yang memiliki kadar kolesterol baik atau HDL (high-density lipoportein) yang rendah dan kadar trigliserida yang tinggi lebih berisiko mengalami diabetes tipe 2.

Nah seperti yang disarankan oleh dokterku. Kalau kamu mengalami perasaan atau gejala seperti dibawah berikut.

*Sering merasa haus.
*Sering buang air kecil, terutama di malam hari.
*Sering merasa sangat lapar.
*Turunnya berat badan tanpa sebab yang jelas.
Berkurangnya massa otot.
*Terdapat keton dalam urine. Keton adalah produk sisa dari pemecahan otot dan lemak akibat tubuh tidak dapat menggunakan gula sebagai sumber energi.
*Lemas.
*Pandangan kabur.
Luka yang sulit sembuh.
*Sering mengalami infeksi, misalnya pada gusi, kulit, vagina, atau saluran kemih.

Segeralah check ke fasilitas kesehatan. Dan lakukan diet gizi seimbang, kurangi konsumsi karbohidrat, gula. Serta rajin berolahraga atau beraktivitas fisik.

Seperti yang disampaikan oleh dr. Michael Triangto SpKO. Aktivitas fisik ataupun olahraga menunjukkan hasil signifikan untuk penurunan kadar gula darah.

Alhamdulillah seneng banget kemarin bisa hadir dalam kegiatan ini. Saat ini aku sedang berusaha diet mengatur pola makan dan berusahat aktif bergerak dan berolahraga. Insyaallah minggu depan aku akan tes ulang medical check up. Bantu doanya ya teman teman. Semoga hasilnya bukan diabetes.

Begitulah pengalamanku mengikuti Peringatan Hari Diabetes sedunia 2019. Semoga apa yang disampaikan ini menjadi bermanfaat. Aaamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *