Mengakhiri Kekerasan Terhadap Anak adalah Tanggung Jawab Kita Semua

” Salahkah sebagai seorang ibu, nggak rela kalau anaknya dibully dan dipukuli oleh teman temannya” tanya temanku mbak Nadia (sebut saja begitu). Saat beliau menceritakan kisah L anaknya yang berusia 10 tahun. L dibully karena menolak diajak pindah tarawih ke masjid lain yang lebih jauh. Cuma karena hal sepele seperti itu, L disepikan dan ramai ramai dipukuli temannya. Walau sekedar memukul menggunakan peci.

Untunglah peristiwa itu dipergoki sang adik perempuan L, yang lantas buru buru melaporkan hal ini kepada Ibu mereka. Mbak Nadia sang Ibu pun murka. Apalagi anak anak tadi berdalih hanya bercanda. Di rumah L pun bilang pada Ibunya, minta izin tetap mau bermain dengan teman teman yang memukulinya tadi. Dengan alasan ” Nanti L tidak ada teman bermain lagi bu”

Lain L lain pula A. A seorang murid tk di sebuah taman kanak kanak di Jakarta. Suatu hari A tidak sengaja keciprit (berak sedikit) di kelas. Bukannya dibantu dibersihkan. A malah disuruh guru keluar kelas. Jadilah anak kecil yang belum berusia 7 tahun itu duduk sendirian di pekarangan depan kelasnya. Hingga pelajaran usai.

Tentu saja Ibu A mengamuk ke sekolah saat mendengar laporan A hari itu. Dengan alasan takut kelas bau. A secara tidak sengaja sudah dikucilkan. Padahal seharusnya sebagai guru TK sudah sepantasnya membantu si anak berganti pakaian terlebih dahulu. Apalagi setiap anak punya pakaian cadangan yang memang sengaja dititip di lemari kelas. A pun sudah mampu cebok sendiri. Sehingga guru cukup mengarahkan si anak agar berganti pakaian.

Dua contoh diatas adalah contoh kekerasan terhadap anak. Ada yang berupa fisik ada yang berupa mental. Yang sangat sering terjadi di lingkungan Kita akhir akhir ini. Dulu di zaman SMU aku juga sempat mengalaminya. Pasalnya cuma karena aku berasal dari keluarga miskin. Untung aku tipe yang melawan. Memang bapakku miskin, tapi keluargaku yang lain juga banyak yang mampu.

Aku pun mendengar banyak kisah pembullyan yang sama baik di tingkat smu bahkan di tingkat taman kanak kanak. Info ini kudengar saat mengikuti peluncuran aliansi Penghapusan Kekerasan terhadap Anak (PKTA) yang diselenggarakan Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak (KPPA) di Hotel Grand Sahid Jakarta 12 Mei yang lalu.

Acara ini dibuka oleh Ibu menteri Yohana Yambise. Dimulai dengan narasi pengecaman terhadap pelaku teror bom di Surabaya akhir akhir ini. Acara juga diisi dengan Talkshow dari berbagai Nara sumber.

Namun yang paling menarik perhatian adalah kisah bullying di lingkungan sekolah. Seperti yang disampaikan oleh Ibu Ratna Budiarti M. med Kepala SMA N 3 Jakarta. Bagaimana kisah perjuangan para guru di SMA N 3 mengubah budaya bullying yang ternyata cukup parah. Menjadi budaya prestasi.

Menurut Ibu Ratna mengakhiri Bullying di sekolah tentu saja bukan tanggung jawab Satu orang. Tapi perlu kerjasama semua pihak. Baik guru, siswa, maupun orang tua. Dengan adanya kerjasama. Hal hal buruk yang dapat ditimbulkan oleh bullying (biasanya karena senioritas) dapat dihindari. Sehingga anak anak tidak merasa cemas berada di sekolah dan mampu mengikuti pelajaran dengan baik.

Bagaimana dengan kekerasan pada anak? Mungkin Kita masih ingat dengan Ari hanggara. Icon korban kekerasan terhadap anak. Atau kalau yang terbaru adalah Angelina. Bocah cantik perempuan yang mati mengenaskan karena kekejaman orang tua tirinya.

Berdasarkan buku akhiri kekerasan pada anak yang disusun oleh Wahana Visi Indonesia. Ada panduan khusus yang dapat Kita gunakan sebagai rakyat Indonesia untuk turut serta membantu mengakhiri Kekerasan pada anak.

Caranya adalah melakukan 3 langkah untuk mencegah dan merespon kekerasan terhadap anak. 3 langkah tersebut adalah :

Aku tahu
Mengetahui informasi yang benar tentang kekerasan terhadap anak

Aku mau
Termotivasi untuk mengambil peran dalam mencegah dan merespon kekerasan terhadap anak

Aku melakukan
Melakukan aksi nyata untuk mencegah dan merespon kekerasan terhadap anak

 

4 Comments

  1. Ternyata banyak sekali kekerasan disekitar kita ya mbak, 😭 saatnya kita peduli, bukan mata bukan hati, cepat dan tnggap, mengakhiri ini. Bukan dengan dibalas kekerasan juga namun dgn menerapkan Hukuman yg memberi pelajaran seperti disiplin positif. Tks Sharingnya bermanfaat untuk sy sebagai koreksi diri😊

  2. Anak anak yg terpapar kekerasan baik dirumah dan di sekolah akan melakukan hal yg sama pada teman atau mungkin anak anaknya kelak. Kekerasan pada anak hanya akan membuat lingkaran setan yang sulit diputus. Lingkaran kebencian dan balas dendam mungkin akan terus berlaku jika tdk segera dihapuskan.

  3. Akupun menemukn kasus yg sama dalam kehidupn sehari2 kak, hiks.. jadi kepikiran masa depan anakku :” semoga bs terealisasi Sekolah Ramah Anak ini. Aamiin

  4. Terima kasih tulisannya kak. Juga kehadirannya di acara.
    Semoga bersama-sama kita bisa mengakhiri kekerasan terhadap anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *