Solusi Berbasis Alam, Murah, Mudah Untuk Menjaga Siklus Air

Bagi kita yang bergelimang air, pasti tak akan menyangka bahwa sebotol air minum 600 ml di Benua tetangga dihargai sekitar 3 dollar atau kurang lebih 49 ribu Rupiah. Omg! Apakabarku yang minumnya sehari bisa lebih dari 2 liter. Untunglah aku tinggal di Indonesia yang mana air itu bagi sebagian penduduk disini bukan masalah besar.

Hujan turun hampir sepanjang waktu, air di sumur rumahku masih deras dan sangat bersih, belum lagi banyak produsen air mineral kemasan yang membotolkan air segar dari Mata air pegunungan. Seperti AQUA.

Tapi tahukah teman? Kita nggak bisa senang senang sendiri saja. Ternyata kalau siklus air ini tidak Kita jaga. Bisa menyebabkan krisis air loh. Walau memang faktanya jumlah air di saat bumi terbentuk sampai sekarang tetap sama. Namun krisis air tetap saja membuat Kita kesusahan.

Hidup bukan hanya untuk sekarang saja, tapi pikirkan 5 tahun, 10 tahun dan bertahun tahun kemudian. Kalau Kita tidak turut serta menjaga lingkungan yakin deh krisis air akan jadi momok buat kehidupan Kita dan anak cucu.

Krisis air adalah kelangkaan akses terhadap air baik secara fisik maupun ekonomi. Secara fisik disini bisa disebabkan karena perubahan iklim/cuaca, penggunaan air tanah yang berlebihan, terjadi perubahan letak geologis bumi dan lain lain. Sedangkan kelangkaan akses air secara ekonomi bisa disebabkan tidak mampunya penduduk suatu area mengupayakan peralatan untuk mengakses air bersih.

Aku jadi teringat sebuah film dokumenter berjudul An Inconvenient Sequel : Truth to Power. Yang bercerita bagaimana efek pemanasan global mencairkan sebagian gletser di antartika, sehingga menyebabkan banjir di Florida. Yang tentu saja mengacaukan siklus air. Karena di bagian lain ada wilayah yang dilanda kekeringan. Pertanian tidak mendapat aliran air, sehingga gagal panen, dan umat manusia kekurangan Makanan, kurang minum, busung lapar, kemudian kematian massal. Kira kira demikian hal terburuk yang bisa terjadi bila siklus air tidak Kita jaga.

Dari acara Bincang Air bersama Danone, di Pabrik Aqua Babakan Pari Sukabumi, pada peringatan Hari Air sedunia 22 Maret 2018 yang lalu. Di sinilah aku mendapat fakta mencengangkan tentang Air. Selama ini kupikir air itu cukup menguap, kemudian kembali lagi ke bumi dalam bentuk hujan. Lalu dipakai lagi oleh Kita, lalu menguap lagi, lalu hujan. Ternyata tidak sesederhana itu teman. Air yang Kita pakai Hari ini bukan air yang menguap kemarin. Siklus air yang sebenarnya adalah siklus panjang seperti tertera digambar berikut ini.

water_cycle

Bapak Arif Mujahidin – Corporate Communication director Danone Indonesia mengatakan ” Bagi Danone, air memiliki peranan penting untuk kehidupan makhluk hidup, karena itu Danone Aqua selalu berupaya turut menjaga kelestarian air Dan lingkungan. salah satunya dengan menggunakan Cara alamiah dengan memanfaatkan potensi Alam untuk menyelesaikan Tantangan terkait air”

ini senada dengan penjelasan Bapak Dr. Nana Mulyana ( Dosen Dan Peneliti Fakultas Kehutanan IPB) bahwasanya yang banyak diakses oleh masyarakat adalah air permukaan. Air permukaan ini hanya sebesar 1 persen dari jumlah total air di bumi.  Ada cara yang bisa Kita lakukan untuk turut menjaga siklus air. Selain tidak membuang sampah sembarangan tentunya.

Cara ini berprinsipkan THR (Tahan, Hambat Resap). Fungsinya adalah mempercepat air yang jatuh dari langit (terbuang) diserap kembali ke bumi sehingga air serapan tanah tetap terjaga. Dan mudah diakses oleh Kita. Salah Satu yang dilakukan Danone-Aqua di daerah mekarsari, Sukabumi.  Yang bekerjasama dengan LPPM IPB Bogor dalam mengembangkan Permodelan Soil Water Analysis Tools (SWAT) di Hulu sub DAS Citatih, Mekarsari Sukabumi.

Selain itu Danone Aqua juga telah menanam 580.000 pohon yang tersebar di delapan desa yakni pesawahan, desa Tenjolaya, Desa Cisaat, kutajaya, desa Jayabakti dll. Danone Aqua juga mendukung warga dengan pembuatan kolam resapan air (water pond).

Contoh water pond di desa Cisaat
Contoh water pond di desa Cisaat

Seperti di desa Cisaat yang kami kunjungi siang itu.  Warga Cisaat yang sebagian besar berprofesi sebagai petani bunga merasakan banyak manfaat dari program Swat ini. Apalagi countur tanah dan kondisi lingkungan di desa Cisaat yang berbukit bukit dan tinggi turut mempermudah konservasi.

IMG_20180322_141005

Warga juga membuat PAH (Pemanen Air Hujan) yang manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh banyak warga untuk keperluan Mandi, cuci, kakus juga keperluan wudhu dan ibadah di Masjid. Kebetulan di desa ini salah satu PAH di bangun di mushola.

Salah satu PAH di Mushola
Salah satu PAH di Mushola

Solusi lain yang juga murah, mudah dan bisa diterapkan pula di daerah rawan banjir adalah membuat sumur serapan.  Sumur serapan ini bermanfaat untuk mengimbuh sumur masyarakat Dan mengurangi genangan atau banjir juga untuk membantu menyuburkan tanah.  Di aliran sungai juga dibuat DAM resapan air yang berguna untuk menahan air saat kemarau sehingga sempat terserap sebagai air tanah. Solusi diatas dapat diterapkan juga untuk mengurangi banjir di Jakarta. Kalau kamu bagaimana? Berminat membuat sumur serapan?

Sumur serapan air yang sudah dimodifikasi dgn tambahan ijuk
Sumur serapan air yang sudah dimodifikasi dgn tambahan ijuk

16 Comments

  1. Aku juga baru tahu ternyata air hujan bisa digunakan untuk kegiatan sehari-hari dengan mengelolanya secara baik, salah satunya PAH.

  2. Ketika mengunjungi pabrik aqua semakin kepikiran utk menghemat air ya, mudah2an yg dilakukan bisa di tiru oleh pabrik2 air yg ada

  3. Alhamdulillah di Citayam masih banyak airnya. Kecuali kalo perumahan udah penuh nih bisa rebutan air.

  4. Di Singapore 20ribu dapat 1,5 liter. Rada nyesek sih beli Aqua di sana tapi ya gimana lagi. Kan butuh minum.
    Alhamdulillah mata air di Indonesia masih banyak jadi air mineral pun terjangkau.

  5. Kita patut bersyukur ya Mba atas anugerah air yg melimpah. Tp jika tdk dijaga kelestariannya kondisi ke masa mendatang akn memprihatinkan

  6. Kalau untuk didaerahnya perkotaan kayak Bekasi kira kira bisa juga ga ya dibuat DAM resapan air macam itu…

  7. Ternyata di Indonesia harga air mineralnya paling murah ya,,, semoga kita bisa melestarikan air Indonesia jangan sampai harganya ikutan mahal spt di negara Eropa.

  8. Penfalaman baru ya mba dan semoga bisa diterapkan dilingkungan jika membutuhkan informasi

  9. Setelah mengikuti rangkaian acara ini, jadi semakin tau dech proses perjalanan air dan bersyukur air mineral yang dijual di Indonesia harganya tak semahal di negara lain ya Mbaa.

    Nah, menurut Aku PAH boleh juga niyy diterapkan di Jakarta.

  10. Aku sering marah sama anak anak di rmh klo mandi dan mainan air. Jd kran air dibuka terus padahal tdk dipakai. Sayangkan airnya krn air adalah kebutuhan yg vital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *