Obat Tuberculosis Adalah Dukungan Dan Cinta dari Keluarga Agar Terus Mengakses Perawatan Medis

“Obat Tuberculosis itu gratis. Disediakan oleh Pemerintah. Yang penting itu dukungan keluarga. Karena pengobatan TB harus teratur, tanpa jeda dan lama” ujar Bapak dr. Pandu Riono , MPH,Ph.D. di Lokakarya Blogger Toss TB Kemenkes beberapa Hari lalu.

Bapak Pandu Riyono
Bapak Pandu Riyono

Saya lantas teringat almh Ibu. Beliau sempat terkena TBSO dan mengharuskan beliau untuk berobat setiap harinya ke Puskesmas. Untungnya Ibu saat itu termasuk pasien yang semangat sembuhnya tinggi. Dan TB yg diderita ibu tergolong TB sensitif obat sehingga waktu pengobatannya hanya 6 bulan. Tepatnya tahap awal setiap hari selama 2-3 bulan, kemudian 3 Kali perminggu selama 4-5 bulan).

Sayangnya bagi pasien, pengobatan secara 6 bulan itu bukan waktu yang sebentar kawan. Saya minum antibiotic selama 3 hari saja sudah bosan. Bayangkan para pasien harus minum obat Tuberculosis ini hampir 180 Hari.

Masih beruntung pasien TBSO, pasien dengan resistance obat atau yang disebut TBRO lain pula. Mereka malah lebih panjang lagi pengobatannya. Yakni selama 2 tahun tanpa jeda seharipun. Penyakitnya bertambah parah, harga obat lebih mahal 200x lipat. Dan bisa menyebabkan kematian Hal inilah yang kadang membuat depresi pasien dan keluarganya.

Pasien TBRO yang telah sembuh
Pasien TBRO yang telah sembuh

Saat mendengar cerita Pak Edi Junaedi salah satu mantan pasien TBRO yang hadir di acara kemarin. Saya berkali kali menepuk dada. Miris, sedih, terharu dan salut pada beliau. Bagaimana penyakit TBRO ini telah merusak banyak sekali bagian kehidupan beliau.

Selain perlakuan dan stigma negatif dari masyarakat umum tentang penyakit ini. Pak Edi bahkan di usir mertuanya dari rumah tempat mereka menunpang tinggal. Kemudian kehilangan pekerjaan Karena tiap hari harus ke fasilitas kesehatan. Dicerai oleh istrinya. Dan Pak Edi hampir saja bunuh diri saking merasa tertekan.

Tapi itu dulu, sekarang beliau sudah sembuh, didukung sertifikat kesembuhan dari Rumah sakit.  Supaya mudah mencari pekerjaan lagi. Pak Edi pun bergabung menjadi relawan bagi pasien TB lainnya yang membantu menaikkan harapan dan daya juang pasien untuk tetap konsisten berobat medis.

Tuberculosis itu adalah penyakit yang disebabkan oleh mycobacterium TB. Yang bisa menyerang paru paru, tulang dan bagian tubuh lainnya. Memang yang paling banyak terserang adalah paru paru. Karena mycobacterium ini sangat mudah ditularkan melalui udara. Dan terhirup masuk melalui udara.

Gejala umum yang bisa dilihat dari penderita TB ini adalah batuk yang berkepanjangan lebih dari dua pekan. Berkeringat di malam hari tanpa sebab. Nafsu makan menurun dan berat badan berkurang secara drastis.

Teman, bila ada anggota keluarga, tetangga, sahabat yang memiliki ciri ciri diatas. Segeralah dukung untuk mengakses pengobatan medis. Karena Satu orang terkena TB bisa meningkatkan resiko orang lain terkena TB juga.

Cara memutus rantai penyakit ini memang harus dengan mencari setiap pasien TB dan mengobati mereka sampai sembuh. Makanya Pemerintah giat sekali mencanangkan Program TOSS TB (Temukan Obati Sampai Sembuh).

Hal hal berikut ini adalah yang bisa Kita lakukan sebagai masyarakat atau orang yang peduli dan mendukung TOSS TB.

1. Mengingatkan setiap orang  batuk yang Kita temui untuk menjalankan Etika batuk. Yakni menutup akses menyebarnya kuman/bakteri/virus batuknya dengan menutup mulut menggunakan saputangan, tisue atau menggunakan masker. Bila perlu sediakan masker dan berikan pada orang batuk yang Kita temui.

IMG_20180324_071608_199

2. Bila menemukan anggota keluarga, tetangga, sahabat yang mengalami batuk berkepanjangan dan Tak kunjung sembuh. Mintalah pada mereka untuk melakukan pemeriksaan secara gratis di FKTP (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama) atau Puskesmas.

3. Menjaga kebersihan rumah, dengan selalu membuka saluran pertukaran udara (membuka jendela di pagi hingga sore Hari) sehingga udara selalu segar dan sinar matahari masuk ke dalam rumah. Hal ini diyakini dapat membunuh kuman/virus/bakteri TB yang ada di Udara

4. Menerapkan Germas (Gerakan  Masyarakat Sehat) konsumsi makanan bernutrisi, rajin berolahraga, makan buah dan sayur, rutin memeriksakan kesehatan, tidak minum alkohol dan tidak merokok karena dua hal ini dapat menurunkan daya tahan tubuh dan ini dapat mengaktifkan microbacterium TB yang mungkin sudah ada dalam tubuh Kita.

5. Jauhi stigma negatif ke penderita TB. Mereka punya kesempatan untuk sembuh. Asal Kita mendukung dan support mereka mendapatkan akses pengobatan medis.  Kalau perlu siapkan bantuan transportasi untuk berobat. Setiap pasien TB yang sembuh artinya Ada banyak kemungkinan penularan yang terputus.

Penyakit TB ini bisa diputus mata rantainya jika masyarakat umum seperti Kita turut aktif membantu pemerintah mencari dan menemukan orang terindentifikasi TB. Apalagi kasus TB ini banyak menjangkiti kaum kaum marginal, daerah dengan penduduk yang padat, orang orang yang tinggal di tempat kumuh dan lembab. Yang kemungkinan besar tidak mau berobat karena permasalahan biaya transportasi ke puskesmas. Namun ternyata bukan cuma orang kurang mampu yang beresiko terkena penyakit ini. Bahkan mantan Presiden Kita bapak BJ Habibie, pernah terkena penyakit ini di usia mudanya. Oleh sebab itu Pak Habibie berpesan, bahwa SETIAP ORANG BERESIKO TERKENA TB.

Ayo mulai sekarang Kita dukung pemerintah mengeliminasi TB dengan cara menjalankan GERMAS, dan turut aktif dalam program TOSS TB. Supaya Indonesia bisa bebas TB di tahun 2030.

25 Comments

  1. Sedih kalau di kucil kan. Pastinya mereka juga gak mau mempunyai penyakit ini tapi yg namanya takdir harus di jalani

  2. Serem jg penyakit ini. Sekeluarga bisa ketularan. Paling penting jaga kebersihan lingkungan ya.

  3. Kita harus jaga diri juga ya, sy selalu pakai masker klo keluar rumah. Krn kadang ada orang batuk/ flu belum mengenal etika memakai masker. Kita gak bs maksa orang melakukan hal tersebut, maka kita sendiri yg harus jaga diri.

  4. Tetangga rumah juga ada yg meninggal TB dan tragisnya dlm satu keluarga bahkan ada yg meninggal krn TB hampir dlm waktu yg berdekatan.

  5. Ngeri juga yah kalo kena TB, pengobatannya mirip ayah saya yang kena paru-paru harus minum obat tanpa jeda selama 6 bulan.. semoga Indonesia bisa bebas dari yang namanya TB

  6. bener sih mba, penderita TB jangan sampai kekurangan dukungan dan motivasi karena nanti malah memperlambat kesembuhannya. Saya jg baru tau klo harus minum obat selama 180 hari, padahal saya minum obat 2 hari aja udah males mba

  7. Kasihan ya kalau kehilangan banyak hal karena sakit. Jangan sampai terjadi lagi hal-hal semacam ini. Indoensia harus bebas TB!!!!!

  8. Aku setuju banget dengan slogan TOSSTB. Karena aku juga pernah mengalami kasus TB, tapi TB kelenjar. Tidak separah yang di paru2 sih. Tapi aku harus menjalani pengobatan selama satu tahun penuh.

  9. Sedih banget sampai diusir dan diceraikan gitu ya mbak. Alhamdulillah akhirnya sembuh. Ia mengkonsumsi antibiotik itu gak enak, ingat setelah SC harus mengkonsumsi antibiotik dan badan menjadi bau. Gak nyaman bangetlah itu.

  10. Pak Edi perjuangannya. iya tbc ini menular semudah batuk biasa menular. harus kita bantu semangati orang dengan tbc agar mau minum obat sampai tuntas

  11. Haturnuhun yaa, mba…
    Tulisannya sangat mengedukasi.

    Aku jadi semangat buka-bukain jendela dan pintu rumah agar sinar matahari masuk dan sirkulasi udara baik.

  12. Bagus acaranya ya, edukasi ttg TB dan sebaiknya gmn kalau ada keluarga kena TB. Semoga Indonesia bisa bebas TB.
    ALhamdulillah obatnya sudah ditemukan dan free pengobatannya ya mbak. Tapi tetep kita harus cegah supaya TB gak terjadi lagi ya TFS

  13. Ternyata batuk-batuk juga ga bisa dianggap enteng ya mbak. Apalagi kalo udah batuk berkepanjangan harus segera ditangani. Saya baru tau tentang pelayanan pemeriksaan secara gratis di FKTP (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama) atau Puskesmas ini lho mbak. Makasih banyak untuk infonya ya mbak 🙂

  14. Aku mau dukung gerakannya,,, karena Ayah saya juga pernah terkena TB,, dan perjuangan untuk sembuhnya itu bukan main

  15. Deuh kebayang bosannya harus mengonsumsi obat selama 6 bulan tanpa henti, apalagi yang harus mengonsumsi selama dua tahun. Pasti jenuh ya…
    Acaranya bagus, sangat mengedukasi. Semoga semakin banyak masyarakat Indonesia yang peduli dengan TB. Dan Indonesia bebas dari TB, aamiin

  16. Wew, bener juga, kl minum obat dgn jk waktu panjang memang harus telaten ya, dan harus ada support system juga ya, yg bs bantu ingetin 🙂

  17. Jadi perlu dukungan dari yang terdekat juga ya mba biar nggak tertekan nantinya, orang terdekat juga perlu mendukung agar penderita lekas sembuh.

  18. Kena TB kalau kluarga gak ada dukungan, bikin yg sakit jd krg semangat buat berobat. Minum obat tanpa putus 6 bln memang gak mudah. Tp ya kalau mau sembuh, kita hrs peduli biar ilang mata rantainya

  19. Bersyukur penderita TBC saat ini bisa sembuh total dengan obat gratis di puskesmas..atau yg lainnya.., dulu sampai tua ..masih batuk TBC dan menularkan ke anak cucu..

  20. Tahun 2015, aku pernah datang dan bertemu langsung dengan para penderita TBC ini mbak Fika. Ada yang cerita ditinggal suami, diputusin pacar, dipecat dari pekerjaannya. Banyak juga yang cerita kalau suaminya membantu pengobatan si istri yang menderita TBC. Dari situ aku simpulkan, bahwa dukungan orang terdekat, justru obat ampuh lain yang gak dijual di manapun.

  21. Dukungan dr orang 2 terdekat sangat penting dlm masa penyembuhan penyakit tb. Semoga makin banyak orang yng aware sm gejala2 tb, krna kdang orang2 sering abai sm gejalanya dan gak mau periksa k dokter cm minum obat warung doang

  22. Almarhumah nenek aku pernah kena TB 🙁
    Ngeliatnya batuk kesiksa gitu. Temen aku bahkan lagi menyusui kena TB, akhirnya gak boleh menyusui anaknya lagi. Tapi, pengobatan rutin enam bulan Alhamdulillah sembuh. Jadi emang harus diperhatikan pengobatannya mbak, biar cepat sembuh

  23. Iyap, support itu penting sangad, selain dari faktor dari semangad dari dalam diri sendiri sih. GERMAS semoga bisa semakin dijalankan oleh masyarakat agar tiap masyarakat tau betapa perlunya dan pentingnya lingkungan dan tubuh yang bersih dan sehat, serta ga malas buat pelaksanaannya. Aaamiiin.

  24. Untuk pengobatan TB emang butuh waktu panjang dan tentu telaten. 6 bulan bukan waktu yang sebentar. Kite sebagai masy sekitar harus dukung jika ada penderita. Jangan kucilkan. Kesian banget

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *