Benahi Keuangan Agar Terhindar Dari Penindasan Ekonomi

“Dasar belagu, sudah miskin belagu loe” bentak senior berambut dora yang mukanya pun nggak cantik. Andai dia sendiri, aku pasti berani membalasnya. Sayangnya mereka lebih dari 10 orang, beberapa diantaranya pun laki laki. Sudah beberapa hari ini mereka mendatangi kelasku, memanggilku keluar dan menyepikanku di belakang gedung SMA. Terus terang aku bingung aku salah apa?. Bahkan aku nggak tahu salahku apa, mereka cuma bilang aku belagu. Dan makin menjadi-jadi saat tahu aku berjualan di kelas. Ya saat tahu aku ini miskin. Memang sejak kelas 1 aku berjualan makanan di kelas, setiap hari aku membawa aneka gorengan, pempek, bakwan, martabak. Penganan itu dibuat ibu setiap tengah malam menjelang subuh, dan pagi pagi aku bawa keranjang berisi 200-300 buah kue kue itu ke sekolah. Awalnya aku berjualan secara sembunyi sembunyi. Ide jualan juga aku dapat karena senioritas yang sangat kental di smuku. Junior nggak boleh jajan dikantin. Gila ga tuh?. Melihat hal itulah aku minta ibuku membuat penganan untuk aku jual di kelas. Aku sih nggak malu, karena hasilnya lumayan untuk membantu keuangan keluarga. Awalnya aku dipanggil guru BP krn berjualan dikelas. namun karena aku rangking 1 di kelas aku diizinkan berjualan.

Kembali ke bulying yang kualami, kakak kakak kelas yang menindasku itu berasal dr kelas 3 Ips urutan terakhir. Pakaian merekapun berantakan, yang perempuan pakai rok lebih pendek dari rok standar di sekolah, dan bajunya sempit plus rambut yang dicat ala ala bule. Aku merasa kesulitan setelah hampir seminggu mendapatkan penindasan tersebut, krn tiap istirahat aku nggak bisa berdagang. dan ini merusak kegiatan berdagangku, dan mengurangi penghasilan ibuku. Akhirnya saat libur sekolah aku mengunjungi rumah guru agamaku, sekaligus memberi tahu tanteku yan juga mengajar di sekolah itu. Aku memang miskin,tapi tidak dengan keluargaku, aku masih punya tante dan om yang dosen, masih punya om yang kapolsek dll. Intinya kalau aku dibully aku harus melawan. Aku memang miskin, tapi aku tidak bodoh. Setelah lapor ke guru, aku mendengar mereka dipanggil wakil kepala sekolah. Dan setelah itu aman, mereka tidak pernah mengangguku lagi. Hanya beberapa kali salah satu dari mereka masih sering menelponku melalui telpon rumah dan menerorku (dulu blm ada ponsel).

Untunglah aku dulu tipe yang melawan ketika dibuly, bagaimana dengan yang tidak melawan? bagaimana dampak bully di masa sekarang? bagaimana dengan pelaku bully? dan apa kaitannya dengan keuangan keluarga? kebetulan sekali Sabtu 9 September yang lalu aku mengikuti talkshow parenting dan edukasi keuangan yang diadakan oleh Sinarmas MSIG LIVE, tentang MENYIKAPI BULLYING PADA ANAK dan Mengatur Keuangan keluarga.

Menurut Olweus(1994:9) mendefinisikan bullying merupakan tindakan negatif yang dilakukan seseorang atau lebih, yang dilakukan berulang-ulang dan terjadi dari waktu ke waktu.  Sedangkan bully yang aku alami waktu SMU dulu adalah seperti yang ditulis Rigby (2002: 15) ”penekanan atau penindasan berulang-ulang, secara psikologis atau fisik terhadap seseorang yang memiliki kekuatan atau kekuasaan yang kurang oleh orang atau kelompok orang yang lebih kuat.”

Aku yakin kita semua tahu apa dampaknya bagi si korban, bila terus menerus bisa menyebabkan depresi dan gangguan kejiwaan.  Apa saja yang harus kita lakukan bila anak kita menjadi korban, pelaku bahkan hanya saksi.

Berikut tips yang aku dapatkan dari pemaparan mbak Fera Itabiliana, Psikolog yang hadir di acara tersebut

1. Mulai dari rumah, berikan perhatian dan kasih sayang kepada anak
2. Bangun empati
3. Manajamen emosi
4. Penyelesaian konflik
5. Sikap asertif
6. Bangun pertemanan
7. Penerapan pola asuh, pola asuh yg paling baik adalah pola asu demokrasi.

Ke tujuh hal tersebut dapat kita praktekkan agar anak, dan keluarga kita terhindar dari bullying baik sebagai korban, saksi apalagi pelaku.

Materi yang kedua mengenai mengatur keuangan keluarga, dari materi yang dibawakan oleh mas Aakar Abiyasa, Founder Jouska. Diketahui apa saja dan siapa saja yang terjebak di dalam pola hidup middle trap. Menurut mas Aakar Abiyasa banyak keluarga Indonesia terjebak dalam Middle income trap, yakni kondisi dimana suatu keluarga mampu melakukan pertumbuhan ekonomi secara cepat hingga mencapai level “middle income” tetapi tidak mampu untuk berkembang lebih jauh.

Kondisi ini menjadi tidak sehat, apabila peningkatan penghasilan juga diiringi peningkatan gaya hidup. Terkadang peningkatan gaya hidup membuat keluarga yang teriebak dalam pola hidup ini tidak memiliki kebijaksaan dalam pengelolaan keuangannya. Sehingga terkadang terlihat mewah, namun seringkali pengeluaran lebih besar daripada pendapatan.

Untunglah aku bukan tipe orang yang begitu.  Kami berusaha hidup sesuai dengan kemampuan.  Bebeberapa tips keuangan yang saya terapkan di rumah.

1. Mencatat dan mengukur semua pengeluaran selama sebulan

2. Membagi penghasilan suami ke dalam beberapa pos

3. Utamakan menabung dan zakat

4. Berinvestasi

5. Tidak berhutang.

Hal sederhana di atas membuat keuangan keluarga kami menjadi lebih aman.

1 Comment

  1. waah keren banget artikelnya mba Fikaaa.. inspiratif banget. Duhh ikutan sebel deh baca soal bulying itu, tapi untung bisa dibales dengan elegan ya ;p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *